Senin, 03 September 2012

Selamat Pagi Tanda Titik

Ini adalah pagi pertama dari tidur panjang semusim yang sudah berlalu,

Ada setumpuk pengharapan yang terburai dalam semalam melalui rangkaian kata,

ada sederet pertanyaan yang kian memudar terucap dari tanya bertanda diakhir tahun,

Semua itu seperti tersapu ibarat debu terbawa angin semalam,
yang tersiram lembut embun pagi tanpa bersisa,
jadi terkulai lemah bagai ilalang-ilalang coklat di pematang ladang nun tandus,

ketidaktercapaian yang melulu akan kian menjadi bisu,

Katakanlah sebuah target usang yang sekelebat datang menjejak diatas pasir-pasir karam dipesisir pantai kala seperempat senja memulai sapa.

Minggu, 08 April 2012

Selamat Jalan..

Foto from: peluang-limatigaempat.blogspot.com
Di hampir malam itu Kasmir berpamit mundur didepan beranda rumah dengan istrinya yang cantik dan dua orang anaknya yang masih balita.

Istri Kasmir menggamit pinggang Kasmir, seperti tak rela melepaskan si suami yang begitu dicintainya,

"Tak bisakah abang bertahan hingga esok pagi bang? ini sudah hampir malam, kasian anak-anak kamu tinggal juga.." Rajuk istri Kasmir yang jelang malam itu mengenakan daster batik printing berwarna merah marun.

Kasmir tidak menjawab, hanya encium kening sang istri, tersenyum kemudian memeluknya begitu hangat, dari bawah, kedua anaknya menatap sang ayah penuh harap sementra mereka tidak mengerti kalau ayah mereka hendak ditugaskan kerja.

"Tunggu aku Leha, aku pasti segera kembali, ini hanya sementara.." kemudian melepaskan pelukannya lalu pergi membawa ranel berisi camera foto lengkap.

****

Pesawat yang mengangkut kasmir mendarat di Papua, Kasmir ditugaskan untuk peliputan misi perdamaian pembebeasan lahan sengketa perusahaan ternama di deretan pegunungan timur Indonesia, sebuah daerah rawan.

Pukul satu dini hari, baling-baling helikopter yang akan mengangkut beberapa pemburu berita itu menderu-deru, berkibasan membuat pengang telinga. Satu batalyon sudah melingkar disetiap sisi lapangan pendaratan darurat, rencananya para wartawan akan di angkut kepuncak Jaya, karena disanalah headquarter berada.

DESIIING....

Bunyi tembakan memecah hingar bingar deru baling-baling, membuat semua mata bertanya-tanya, darimanakah asal suara itu, 

Kasmir, menaikkan tas ranselnya, hendak medapati duduk dibangku paling belakang, namun sayang sekali, belum sempat menaruh diri pada bangku, selasat peluru perak mendarat dibagian lehernya...

Deru pesawat terhenti, berganti dengan suara-suara panik dari sekian puluh orang yang berada dilingkar pendaratan darurat.
Darah segar mengalir pada bagian leher Kasmir, nafasnya megap-megap, bibirnya sudah pucat pasi,
tak ada petugas medis yang siaga ditempat itu, hanya ada kotak p3k seadanya saja, bala tentara sibuk mencari-cari sumber tembakan, suasana panik menambah parah, hingga pada akhirnya Kasmir menghembuskan nafas terakhirnya, menutup matanya, terbayang dipelupuk mata Kasmir, tiga sorot cinta yang terlihat menjauh kemudian memburam.

****

Malam yang dingin, pukul tiga dini hari, Leha terbangun dari tidurnya, berjumput dengan kucuran air diwadah cor persegi empat, wudhu, mendoa untuk sang suami yang sedang ditugas kerjakan, penuh pengharapan agar diperolehnya keselamatan untuk suaminya tercinta..

**** End


Jumat, 06 April 2012

Hatiku Kebas

Foto From: Ibadurrahman (http://ibadurrahman.deviantart.com/art/Sunset-Alone-173165091)
Aku memangkas rindu itu perlahan dalam setiap guratan malam..
Meletakkannya sembunyi-sembunyi dalam bilik berjamur, agar kasat oleh mata, dan lupa akan rasanya.
Hening dan pengap meluap-luap dalam sesak tak berkesudahan, kala ornamen bernama rindu itu hilir mudik dalam dada.
Kudapan kosong, tak juga enyah, kadang meredup, kadang gegap gempita berkelap kelip, tetap rindu..
Hai kamu, jadilah sebagai pusat bahagiaku,

- Aku Meminta Malu-malu -

kemudian sepi sekonyong-konyong tanpa permisi datang, kamu diam.
Kita berdua telah melewati jeda, yg sama-sama bermuara disatu rasa, tapi siapakah yg tahu rasa? Sesembunyi tetap berkerut, membekas didada..
Kembali aku pengap, sendiri bersembunyi, megap-megap tak dapat jawab, alih-alih menunggu lagi, alamak, rinduku bagai diternak..
Ah, sudahlah, sepintas lalu saja, sesempatnya saja, menyirami ternak rindu itu bagai gersang yg menunggu hujan, semoga saja tak mengering..
hatiku kebas!!

Hujan dan Secangkir kopi


Coffee and Rain (taken from: http://www.leegleiser.com/blog/?p=294)
Apa jadinya kala rasa ini melipir kesebuah sudut segi tiga
yang disetiap sisinya ada riak basah karena percikkan air hujan
yang disetiap sisinya bertinggal bekas jatuhan air hujan

Apa jadinya kala rasa ini terhenti pada tempat teduh yang menyelamatkan
dari rentetan air hujan
dari basah
dari dingin yang ditinggalkan hujan
dari aroma abu yang berbekas
kemudian menimbulkan hangat yang ternyata tercipta hanya sebentar saja

Apakah jadinya saat hujan tanpa kaca dibalik jendela
duduk merenungi tiap titik butiran putih bening
melesat cepat berebut membumi ke tanah
kemudian ada tempias meski hanya titik titik kaca bak mutiara

Dan,

Apakah jadinya ketika tak ada secangkir kopi yang ikut merangkul kala hujan berebut turun ketanah?

hai, biar aku kutipkan sebuah dialog bias-bias hujan dan secangkir kopi:
"Kau tahu aku ini hanya datang sebentar?" bisik rerintik hujan

dalam asap mengepul dicangkir kaca bening ia menjawab:
"Tak jauh beda kita, pun demikian aku datang, hitungan waktu saja aku mendingin kembali dan kepulan asap ini akan menghilang diselimuti udara kosong."

Dan rerintik hujan itu seperti tersengat dinginnya sendiri,
tak menjawab secangkir kopi yang kala itu masih mengepul dalam lingkar kakunya

"Aku datang sebentar saja, dan begitu juga dengan kamu, tak perlulah kita mengulur waktu hingga nanti dingin menepi, hangatkan aku sejenak, kemudian aku pun berpamit diri..."

Hujan itupun menengadahkan jatuhnya, melambatkan jatuhnya, membiarkannya saja mengalir...

Apa jadinya kala hujan bergemuruh itu datang kemudian kepulan asap dalam cangkir berisi kopi menemuinya?

Dalam sesaat akan tercipta hangat,
melesat mampir dalam diri,
meninggalkan bekas tanpa harus bertatap ulang kala hujan datang kembali..

Minggu, 01 April 2012

Proofreading Spectrum24



Setelah melalui proses penulisan selama hampir satu bulan, SPECTRUM 24 akhirnya hari ini terselesaikan. Sebuah project menulis dalam rangka menyemangati diri untuk mau mengumpulkan apa yang sudah disusun. Beriringan dengan pergantian usia di 12 Maret lalu, akhirnya terciptalah ide pembuatan buku fiksi, Spectrum 24, sebuah buku fiksi narasi yang berisi 24 cerita pendek, flash fiction, dan dialog narasi. Sebagian besar merupakan cerita yang ditulis sejak awal Maret 2012 ini, dan ada beberapa cerita pendek yang memang pernah dipublikasikan sebelumnya, seperti dalam buku-buku project menulis bersama yang dikenal dengan #11project11days oleh penerbit @nulisbuku. Juga ada naskah cerita pendek yang pernah jadi 10 besar naskah cerita fiksi terbaik di Pekan Sastra 2009 Institut Pertanian Bogor. Berikut kutipan resensi buku #spectrum24 yang hari ini sedang menunggu proses proofreading...

Resensi:

Spectrum24 sebuah buku kumpulan cerita fiksi


Dimulai dari cerita Gincu Merah Yati, seorang perempuan yang menjadi penjajah cinta karena sakit hati kepada lelaki. Kemudian beralih kecerita tentang masa lalu, tiba-tiba muncul dan mengaduk-aduk hati Ogi dalam Anonim Chat. Lalu, apakah hati ini akan tetap sama ketika menyukai seorang wanita namun tak berbalas? meski sudah berpisah belasan tahun seperti kisah Danarumy. Mari berkunjung ke negeri Deron di Rorotan, bersayap dan bercahaya, terbang bersama Canis Major di Orionid. Dan apa jadinya jika kita hilang ingatan? melupakan masa lalu yang berharga, di Morning at Ubud. serta ada sebuah petikkan dialog narasi Cinta Dalam Kotak & Pertemuan tiga inchie sebagai penutup 24 cerita fiksi dalam Spectrum 24, yang akan membawa pembaca berimajinasi dalam satu paket lengkap.

Rasanya bisa menarik nafas lega ketika proses rereading ketiga kalinya sudah selesai dan masuk proses waiting untuk proofreading. Semoga semua prosesnya berjalan dengan baik. Dan hal yang paling penting adalah ketika nanti bukunya siap cetak untuk order melalui toko buku online di http://nulisbuku.com/homepage semoga akan banyak penikmat cerita fiksi menyukainya..

Senin, 12 Maret 2012

SPECTRUM 24



Hari ini aku sedikit berjalan mundur, beberapa langkah menghitung lembaran catatan lawas, dari tahun ketahun, disetiap goresan tintanya ada beberapa garis liat katakanlah coretan yang memang sengaja aku tuangkan, mungkin saat itu sedang berubah pikiran, atau memang menemukan kata yang lebih pas untuk mendeskripsikan sesuatu yang hendak ingin aku ungkapkan. Hal lumrah sebetulnya, hanya sebuah deretan mimpi-mimpi yang setiap tahunnya dibuat jelang pukul dua belas malam jelang pergantian hari kelahiran. Disitu aku lihat rutin dalam setiap batas halaman yang tercekat melalui warna warna kertas, dari setiap pergantian usia, hingga malam setahun lalu. Ijinkan aku kali ini sedikit melangkah lagi kebelakang, jangan salah paham, bukan bermaksud berjalan mundur, akan tetap hanya ingin menengok bias wajahku yang tersurat melalui tulisan-tulisan itu.

VLT Captures First Direct Spectrum of an Exoplanet (google)

Tak beda jauh dengan mereka yang juga berubah usia dari tahun ketahun, selalu mencantumkan apa saja keinginan mereka sebelum jam berdetak, menunjukkan pukul dua belas malam, atau seperti jeritan hati pada saat mata tertutup sepersekian detik sebelum lilin pada birthday cake ditiup. Seperti percintaan apa yang dinginkan, lalu rencana-rencana perbaikan apa yang diharapkan bisa dijangkau setelah angka pada hitungan tanggal lahir berubah, atau apa saja kebiasaan buruk yang ingin diminimalisasikan agar tidak terulang kembali. Semua rencana-rencana itu tersusun rapih berderit derit dari angka pertama yang merupakan prioritas (biasanya), mungkin kadang hingga angka sepuluh, bahkan lebih. Semacam to do list persis ketika pergantian tahun menjelang di akhir Desember. Semua mimpi dan harapan kembali disatukan, dalam beragam corak, jutaan pengharapan, luapan energy luar biasa yang menyerukan semangat.
Sejak awal aku menuliskan beberapa keinginan ketika pergantian tanggal antara sebelas Maret pukul 11.59. ke tanggal 12 pukul 00.00, aku selalu menerapkan kebiasaan tentang mimpi dan cita-cita, ada satu mimpi yang hingga kini masih terbata-bata aku menyatakannya, hidup dengan tulisan-tulisanku, tertuang cerita hidup dalam deretan kata lalu jadi kalimat yang layak untuk dibaca dan disebut sebagai paragraph. Tidak ada wish saat mata tertutup ketika ingin meniup lilin pada angka melumer yang ditancap diatas cake, tidak pernah, hanya ada deretan spectrum dalam otak ini yang berambisi mengumpulkan tiap biasannya dalam beragam warna menjadi sebuah isi yang menyatu. Ya, itu yang membedakan angka 24 ditahun ini, hanya ada spectrum yang berpandar dalam otak, bersinar semakin terang, menjauhi redup dan mendekati gemintang, aku nikmati spectrum 24 ini..

Selasa, 13 Desember 2011

Aku hanya menanti angin kosong ---


Bersama angin aku turut berharap, namun tetap saja kosong...




Malamnya gelap gulita,
Langit rata tertata tanpa awan, hanya satu pekat sekat gelap sejauh mata memandang,
Terduduk diri ini dalam beranda taman menekuk kaki dan memeluknya dalam dingin,
Semilir bau tanah dan rumput basah setelah seharian tersiram hujan menusuk diam-diam kedalam hidung.
Bisikan angin-angin malam membawakan sejumput pengharapan dari pengirim surat tanpa pengantar yang sejak lama ditunggu-tunggu,
Aku terpaku, masih saja terpaku seperti dulu,
Menjentikkan jari jemari kelangit, seolah berdebat dengan rasi bintang yang kosong karena langit bersih kala itu,
Seberapa banyak kata yang harus aku keluarkan beriringan dengan denting air hujan yang merayap deras di atas atap rumah pohon? Agar aku bisa menjelaskan lebih terperinci setiap detail isi hati,
Mendayu-dayu semilir anginya,
Bersorak-sorak dalam damai yang asing,
Bergelayutan bersama ranting basah yang lapuk oleh rindu,
Alah, ada kata rindu lagi terucap, bahkan sudah aku lupa bagaimana rasanya rindu itu merajuk pada hati yang biru.
Kata-kata ini rasanya tidak juga cukup mewakilkan rasa semrawut dalam dada,
Hanya bisa sejenak menepikan rasa, kemudian tidak sabar seolah seperti ingin melebarkan, membentangkan layar agar terkembang melaju kedepan namun berjalan mundur tanpa sadar dalam diam yang masih saja diam,
Kembali aku sadari terduduk merapatkan kaki diatas bangku kayu beranda yang basah,
Seperti berdialog dalam bahasa alam yang verbal namun kasat mata,
Bercerita bersama angin kosong yang tidak membawa kabar apapun, kosong --- 

Selasa, 06 Desember 2011

The Ending -



Diantara hamparan laut dan pasir yang bersejajaran, dihadapan altar dalam bangunan persegi tiga, sekali lagi untuk yang kedua kalinya aku tinggalkan cerita kita bersama terhantar senyuman batin.


Selalu tak sempat berkecup muka ketika langkah kaki ini meninggalkan tanah pulau seribu pura dalam catatanku.


Aku tinggalkan dia disini, dalam putaran waktu yang akan membawa kita dalam pertemuan lainnya, dalam harapanku yang hanya berbentuk kotak persegi empat, berjibaku dalam lontar masa ke masa, lalu tumbuh meninggi seperti bambu ditengah semak, berjumpa dalam titik tertinggi di udara, semoga akan ada hal sama seperti masa lalu itu yang selalu membawaku dalam khayalan kecupan kening dimalam berbulan sabit dan berias bintang.


Sungguh aku ini benar akan menunggu, sampai ketika aku sadar bahwa sudah berlalu mendengarkan sejuta syair musik yang mereka bilang dengan sebutan -galau- dan aku lebih memilih Absurd, sebagai kiasan yang mewakilkan rasa ini, gila dan eksotis dalam semalam.


28 November 2011
Pesisir Pantai Utara

Sebuah Catatan Kaki

"Hanya beberapa kali dia bicara,
tapi sunggguh itu sudah membuatku gila!"


                                                                      "May l Fall in love -with you- again?"




Biarlah,
Aku tinggalkan namamu dan nama kita diatas pasir sepanjang pesisir pantai Kuta,
terhempas bersama ombak,
dan kemudian terombang ambing, terhempas batu karang,
hilang dikejauhan,
melebur bersama terumbu karang


(28 November 2011)

Kuiringi Kau Jelang Tidurmu...

Foto from google, candle light -
Aku biarkan daun cemara menunduk bersahaja,
Meneteskan sisa sisa air hujan yg bergelayut di daunnya yg kasar,
Meninggalkan baunya yg menusuk hidung,

Kau kutemui kala matahari menyeruak di belahan kabut temaram seperempat pagÏ menjelang,
Kemudian kau kujumpai waktu sengat panas memompa canda ditengah lelah siang hari
Lalu,
Kau ku iringi saat purnama sepenggal bergelayut romantis pada dinding langit gelap yang dititah bintang bintang,

Selamat istirahat wahai jiwa-jiwa yang lelah,
Jiwa-jiwa yang haus akan cita,
Jiwa-jiwa berkeringat yang bersahaja,
Jiwa-jiwa yang masih punya jiwa,
Melanjutkan perjuangannya,

Aku,
Merapatkan tangan, menengadah, meminta, agar jiwa-jiwa itu (kamu) selalu ada dalam lingkup bahagia yang berdahaga dalam bahagia, cendrung absurd dalam cahaya, dan cemerlang seperti bintang,

Selamat malam,
Selamat istirahat,
jakarta, 5 Desember 2011 [22.27 pm]

Senin, 14 November 2011

Skripsi Cinta

Semalam suntuk Sunny bergumul dengan Skripsinya, matanya hampir sembab karena menatap monitor berjam-jam, seketika kaget, saat YMnya bunyi..


Seketika Sunny kaget, user name yg sudah lama di delet tiba-tiba saja muncul, permintaan pertemanan kembali, antara sadar dan tidak, accepted di kliknya,


Tak perlu menunggu lama, chatpun dimulai, Sunny diam, hanya membaca pesan yg baru saja masuk: "Selamat malam, apa kabar?" ~ Skripsi Cinta

TURUT BERDUKA

Akhirnya aku bisa tertidur, & melihatmu masih menggunakan jistring yg sama sperti malam pertama kita, kemudian kamu hilang, dalam awan malam,


Sepintas aku mencari-cari dalam cermin diujung kamar, adakah bayangmu yg sedang menorehkan gincu merah, namun kosong, hanya ada debu pekat.




Lalu aku berpindah ke meja rias, mencoba raba aroma wewangian yg selalu kau semprot ketubuhmu sebelum kita bertemu di ranjang, tapi kosong!


Sampai akhirnya aku keluar, keberanda rumah, kutemukan, papan rangkaian bunga harum kemboja dan melati menusuk.. "Turut Berduka Cita." -Diam

Aku Hanyalah Wortel

Aku hanyalah sepotong wortel di atas sup jatah sarapan pagimu..


Bahkan kadang-kadang aku bertukar peran dengan potongan tomat dilapisan sandwich mu, aku bukanlah keju, atau susu coklat yg selalu kau pilih


Aku ibaratkan aku ini musik dangdut yg tak disukai, karena di ipod touch mu itu hanya ada lagu hip hop, jazz, atau mozart


Tapi kadang-kadang juga, aku menjelma jadi jus labu kuning, kau buang ampasku, lalu kau ambil sari patiku, aku terimakasih


Dan ternyata, Kita adalah kotak persegi empat, yang mencoba masuk kedlm lingkaran, kamu tau jadinya apa? Sbuah lipatan sobek dberbagai sudut


------------------------------------- 12 November 2011

Selasa, 08 November 2011

PROJECT MENULIS BERSAMA

Akhirnya setelah mencuri-curi kesempatan untuk memposting tulisan-tulisan, selesai juga semuanya. Lama tak berbicara didinding sini, bukan karena malas menulis atau memang tak punya waktu, tapi beberapa waktu ini memang ternyata lebih banyak media lain yang lebih sederhana untuk sekedar memposting tulisan, atau lebih singkat seperti macam twitter, tapi abaikan saja waktu-waktu yang lalu itu.

anyway, sudah selesai memposting beberapa tulisan yang Alhamdulillah akan dibukukan. Sejak pertengahan Oktober lalu, iseng-iseng saya buka media selfpublishing online Nulisbuku.com, ternyata sedang diadakan project 11projects11days, awalnya sama sekali buram, tapi belakangan selalu membuntuti via timeline di twitter, dan ternyata itu semacam project menulis bersama, yang nantinya tulisan-tulisan terpilih akan dibukukan jadi 11 buku. Namun, berhubung saya telat tahu tentang project itu, jadi saya cuma ikut di project hari ketiga sampai hari kesebelas. Semua tulisan-tulisan yang masuk sudah saya posting sebelum postingan ini. Project menulis bersama ini simole sekali, kita cuma tunggu klue dari redaksi Nulisbuku setiap harinya mulai pukul 11 siang, admin akan mengumumkan apa tema tulisan hari itu, dan keseluruhan tema diambil dari lagu-lagu yang sudah sangat familiar ditelinga.

Kita mulai dari project di hari ketiga, ini adalah Buku Pertama saya, tulisan saya yang dibukukan untuk pertama kalinya, tema hari itu diambil dari lagu dengan judul Salah..



Di buku pertama saya ini (Buku ke tiga di #11projects11days) tulisan saya yang masuk judulnya "Disatu Jingga Sore Itu" Flash Fiction yang saya ambil dadakan, karena berhubung menulis disela-sela jeda makan siang kantor lalu bersambung sepulang jam kantor, jadi waktu itu hanya sempat membuat flash fiction, semangat sekali rasanya!!

Masuk hari ke keempat, lagu yang diambil adalah Baby Says milik The Kills, dan untuk tulisan ini, saya benar-benar habis ide, alasan pertama adalah karena lagunya ga pernah saya dengar, lalu ditambah waktu itu ga ada waktu buat nulisnya, alhasil baru sempat selesai menjelang deadline jam 11 malam, dengan cerpen berjudul "Kita dan Akhirnya"


Dibuku kedua saya ini 'agak' sedikit lebih senang, karena di tema ke empat dari Nulisbuku #11projects11days buku ini yang paling 'limited' edition, karena cuma terpilih 30 penulis dan hanya ada satu buku, Awsome!!!

Selanjutnya, masuk ke buku ketiga saya yang masuk, Judulnya MENARI, diambil dari judul lagunya maliq & d'essentials dengan judul yang sama, dibuku yang ketiga ini, tulisan saya yang masuk itu judulnya "Ombak-ombak Uluwatu" sedikit bertutur tentang bahagianya orang pacaran, agak klise, saya ambil setting di Uluwatu, sisa-sia ingatan perjalanan saya Juni lalu ke Bali.



Oke, lanjut ke buku selanjutnya, project Nulisbuku hari ke 6 #11projects11days, dibuku ke empat ini, tulisan saya langsung masuk dua tulisan, tema tulisan bebas di ambil dari lagu apa saja yang disukai, dan kalau tidak salah saya ambil beberapa lagu, dan yang terpilih dua lagu, lagu Boyz ll Men yang Song For Mama, saya buat puisi yang judulnya "Selamat Malam Ibu" lalu tulisan kedua saya ambil dari lagunya Eqoutez yang judulnya Sakit, dilagu ini saya dapat inspirasi cerita pendek yang saya beri judul "Kisah Tiga Babak"




Dance With My Father by Luther Vandros, menjadi tema yang diangkat di project Nulisbuku #11projects11days hari ke 7, dan menjadi buku ke 5 saya disitu, lagi-lagi masuk dua tulisan, namun terpisah, di Buku #1 "Tanpa Definisi" dan buku #2 "Drama Lima Tahun" tulisan tulisan ditema lagu ini saya ambil dari beberapa respons broadcast yang sempat saya share keteman-teman dekat :)




Dan sampai dengan saya turunkan postingan hari ini, masuk kebuku keenam saya yang lolos lagi dilist penulis buku bersama #11projects11days, judul buku di ambil dari lagunya Dewa yang judulnya Cemburu, disini tulisan saya yang masuk judulnya "Indahnya 'Melantai'"














Selanjutnya buku ke 7, di buku ini terinspirasi dari lagu Rihanna yg judulnya LOVE THE WAY YOU LIE, judul buku sama dengan lagunya, sebagian besar berkisah tetang kekesaran dalam hubungan pacaran, dengan berbagai pandangan penulis-penulis didalamnya, situasi yang berbeda, dan pastinya gaya tutur yang tidak serupa. Tulisan @irfanbatagor di buku yang ini judulnya MARRIAGE AND THE RAIN, berkisah tentang bahagianya mencintai seseorang yg kita anggap sempurna, dan betapa kikuknya menyambut hari pernikahan.. cekidot for the cover:




.
Last but not least, buku ke ke 8, atau bisa dibilang ini buku ke 10 dari seri buku 11projects11days nya @nulisbuku , dan di buku ini dibuat dua, Bimbang #1 dan Bimbang #2, ada puisi-puisi absurd yang dibuat menjelang pagi buta disini, Cinta Dalam Kotak dan Pertemuan Tiga Inchie yg dibuat duel bareng @diramanjaro, it's amazing, iseng-iseng malah jadi dibukukan :) this is the cover:












Dan itulah revie buku-buku yg nyangkutin tulisan @irfanbatagir didalamnya, mulai tanggal (14 November 2011) sudah bisa di order di: http://nulisbuku.com/orders/category


Semoga Bermanfaat, ini adalah awal dari kebangkitan penulis yang tertidur di dalam gua tak bertuan, salam hangat...

ORIONID



Dan terbentang sayap Deron yang berwarna perak saat dia melompati pohon kering yang tinggal tersisa batang-batangnya saja. Mukanya kesal, memerah, tubuhnya yang hanya sebesar ibu jari itu melayang-layang tidak tentu arah meliuk liuk terbawa angin. Kepak sayapnya memastikan dia menuju kemana, pondok coklat kecil yang terletak diujung desa, kampung Rorota.
Foto taken from Google

Mama: Seperti biasa, pulang kerumah mukanya masam, pasti gara-gara Regol?
Deron: (Bertolak pinggang) Siapa bilang, aku hanya kepanasan, cuaca diluar sangat panas, mataharinya sangat terik Ma, sudah, aku mau kekamarku dulu.
Mama: Tidak mau habiskan madumu dulu Deron? (Mama menawarkan semangkuk madu merah pekat dan sangat kental kepada Deron yang hendak masuk kekamarnya)
Deron: (tidak menjawab, menutup pintu kamarnya yang terbuat dari kayu oak, lalu menguncinya dari dalam)
Mama: (Mencoba mengetuk pintu) Deron, berapa kali mama bilang, jangan berteman dengan Regol dan kawan-kawanya, mereka bukan anak baik-baik, mereka terlalu brutal, Mama tidak senang kamu berteman dengan mereka. (Mama kembali mengetuk pintu perlahan, membujuk Deron)
Deron: (Dari dalam kamarnya, menutup telinganya dengan topi kupuluknya, menariknya hingga kebagian leher)
Mama: Baiklah, mama simpan jatah madumu siang ini di lemari pendingin, jangan sampai dihabiskan Melda, adikmu sebelum ia pulang dari kelas terbangnya. Mama mau ke rumah Bibi Lora, sejam nanti kembali. (suara pintu tertutup dari luar, dan kemudian hening).

****

Diceritakan ada sebuah kampung bernama Rorota, hiduplah sekelompok kecil  manusia dengan wujud seperti kurcaci, mereka sekecil ibu jari. Bentuk tubuhnya persis seperti manusia, hanya saja mereka sangat kecil. Menurut cerita yang beredar dan turun temurun dari generasi mereka, mereka adalah sejenis peri rumah yang hidup sangat jauh dari bumi. Mereka hidup di sebuah garis orbit bernama Orion. Bentuk mereka sama dengan manusia, hanya saja mereka memiliki kulit berwarna jingga, dan ada sayap yang terbentang dipunggung mereka, mereka bersinar disetiap gelap datang.

Tidak banyak populasi mereka, satu kampung itu hidup seperti keluarga besar yang tinggal dalam kompleks. Mereka saling mengenal satu sama lain, hidup damai dan bersahaja. Tidak ada korupsi, tidak ada demonstrasi, tidak ada polusi, semua bersahaja dalam hidupnya. Terkecuali remaja bernama Deron, hidupnya sangat penuh masalah. Anak tertua dikeluarga Betelgeuse ini memiliki rasa percaya diri yang sangat sedikit, badannya yang kurus, berbicaranya yang sedikit cadel, dan kesialannya yang luar biasa dimanapun ia berada membuatnya semakin merasa bahwa dialah yang paling berbeda di kampungnya sendiri. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan kekesalan, ejekan dari teman-teman seumurnya, terutama dari temannya yang bernama Regol membuat Deron semakin benci dengan kehidupannya di kampung Rorota itu. Ayahnya Betelgeuse adalah seorang penasehat hukum di kampungnya, ayahnya terkenal sebagai orang yang cerdas, berwibawa, dan memiliki kemampuan bersinar dengan tiga warna bergradasi dalam gelap, semua orang sangat menghargai Betelgeuse, Ayah Deron, sang Maha Agung.

****

Malam yang cerah, cahaya bulan yang redup tak menghalangi anak-anak kampung Rorota bermain disepanjang sungai Eridanus. Aliran sungai dari jauh terlihat berwarna perak, berkelap kelip disepanjang hulu sungai, cahaya yang terpancar dari tubuh-tubuh mungil mereka. Suara nyanyian dari dahan-dahan pohon yang rendah seperti paduan suara yang teratur ritmenya. Disana, didahan-dahan pohon itu, berkumpul gadis-gadis cantik dari kampung Rorota, rambut mereka tergerai indah, menggunakan gaun malam yang terbuat dari sutra tipis panjang berwarna biru. Cahaya yang keluar dari tubuh mereka berwarna abu-abu cerah, mereka duduk didahan-dahan kayu, bernyanyi. Daron, duduk di batu paling ujung hulu sungai, sendiri, cahayanya berwarna putih terang, dia tidak ingin bergabung dengan teman-temannya, bosan rasanya dia menjadi bulan-bulanan Regol dan kawan-kawannya. Matanya tertuju ke sungai Eridanus, disana ada bayang-bayang samar dari sosok gadis berambut hitam tipis yang duduk di dahan pohon tak jauh darinya, Mintika namanya, sudah lama sekali Deron menyukai mintika yang berlesung pipi, suaranya yang paling merdu diantara suara-suara yang bernyanyi malam itu.

Kebiasaan berkumpul di hulu sungai ini ada setiap menjelang akhir bulan menuju musim semi, sebelum kelopak lili terbuka, anak-anak kampung berkumpul disepanjang hulu, ingin menyaksikan kedatangan Canis Major, atau anjing pemburu yang berburu diatas air sungai perak. Canis Major melewati kampung rorota setiap akhir bulan, dan menurut mitos yang beredar di kampung Rorota, Canis Major itu adalah portal waktu yang menghubungkan antar rasi bintang, bahkan bisa sampai ke bumi. Namun, satu hal yang paling ditungggu-tunggu oleh anak-anak kampung Rorota di hulu sungai Eridanus adalah, bulu dari Canis Major yang kabarnya dapat mendatangkan keberuntungan.

Hari makin larut, namun hulu sungai semakin ramai oleh kedatangan warga-warga Rorota yang ingin juga menyaksikan kedatangan Canis Major dan melihatnya langsung melintasi sungai. Deron masih duduk dibatu yang sama, persis disampingnya sungai berwarna perak mengalir. Hawa dingin kian merasupi tubuhnya, dia melipat kedua tangannya kedalam jaket, sayap mungil dipundaknya berkibas perlahan, ada pertanda, nyanyian dari gadis-gadis didahan pohon semakin terdengar pelan, dan lama-lama berhenti. Ada bisik-bisik dari kerumunan warga yang datang, sampai akhirnya hening mencekam, Daron memandang keseluruh cahaya yang berjajar dihulu sungai, semua orang tertuju pada satu sinar emas mendekati mereka dari kejauhan, hening, Canis Major tiba.

Deron mempersiapkan dirinya, kali ini dia tidak akan gagal mendapatkan sehelai bulu dari Canis Major, sayapnya terkembang, membawanya sedikit terangkat dari batu tempat dia duduk, matanya fokus pada Canis Major yang masih terlihat titk emas yang kian lama kian jelas. Hentakkan kaki canis major seperti suara sepatu kuda, begitu cepat terdengar menderu-deru berkecipakkan diatas sungai, Canis Major semakin jelas terlihat mata, bentuknya seperti unicorn namun lebih kecil, moncongnya seperti anjing namun, di bagian belakang ekornya ada rambut yang bersinar, berkelap kelip, itu yang ditunggu, rambut keberuntungan, terhempas angin-angin, melambai seperti tak bertulang. Ada ketakutan yang mencekam ketika Canis Major kian mendekat, meraung terdengar keras dan memekakkan telinga, memecah air sungai Eridanus yang perak. Deron bersiap-siap, sayap munglinya, mengepak keras membelah udara, dia akan nekat menyergap buntut belakang Canis Major, semakin mendekat, semua mata terkesima menyaksikan keagungan Canis Major yang membuat kulit mereka dingin, mereka ketakutan sekaligus terkesima menyaksikan pemandangan yang hanya bisa mereka lihat sebulan sekali itu.

Seperti sinar meteor yang meluncur membelah galaxy, Canis Major berlalu diantara gemercik air sungai Eridanus, sekelibat, dan Deron menghilang.

****
Foto by google

Deron berteriak, semangat, hingga urat dikedua lehernya terllihat jelas, dia terhempas seperti melesat bersama meteor, terbang secepat kilat di langit. Bergelayutan diantara bulu-bulu Canis Major. Matanya tak dapat melihat dengan jelas karena cahaya diantara bulu-bulu yang gemerlapan, dia masih terus berteriak WOHOOOOOO!!!! YEAAY!!! AKU DAPAT!!!!!
Ikut melesat diatas sungai  Eridanus yang menuju ke arah utara, kedua tangannya memeluk bulu Canis Major, kuat. Tidak sampai sepersekian detik, Deron merasakan ada yang aneh, udara kian menipis, dan dingin terasa menusuk tubuhnya berlipat ganda, Canis Major menghentikan langkahnya, menepi dari sungai Eridanus, melompat keatas pohon-pohon, mencapai puncak pohon, dan melonglong, memecah kesunyian sepertiga malam yang semu dari sinar rembulan dan guratan meteor yang berkelibatan di angkasa. Deron tersadar, sontak kaget bahwa dia menemukan dirinya masih dipunggung Canis Major, kikuk, dan panik menjadi satu, namun dengan cepat kali ini dia mengepakkan sayapnya, setelah menarik sehelai bulu dari buntut Canis Major yang belum sadar akan keberadaannya.

Deron terbang, menuju kampungnya, Rorota. Luar biasa rasanya dia bisa menunggangi Canis Major yang melegenda itu. Tidak sia-sia dia nekat untuk meluncur kebawah kaki Canis Major ketika membelah sungai Eridanus beberapa jam lalu. Ditangannya menggenggam sehelai bulu Canis Major berwarna perak, masih berkelap kelip namun lemah. Senyum mengembang tak hentinya dari wajah Deron, bergelora rasanya saat dia mengepakkan sayap membelah udara malam yang kian dingin, tak ada satu ketakutan apapun mengikutinya kali ini. Luar biasa, itu yang terus melayang-layang dalam pikirannya, melihat kedalam genggaman tangannya.

Pintu pondok rumah Deron dibukanya perlahan, melangkah diantara bunga-bunga lili yang siap mekar esok pagi, perlahan menapaki batu-batu, hati-hati takut menginjak daun kering atau ranting yang jatuh dari dahan pohon. Matanya tertuju pada kamar paling atas, kamar Mama dan Ayahnya, yang Maha Agung, Betelgeuse, sepertinya mereka semua sudah terlelap tidur.

****

Dua minggu pasca keberhasilan Deron mendapatkan bulu Canis Major, tetap tak ada yang mengetahui hal itu, bakan Ayahnya, Betelgeuse pun tak tahu sama sekali bahwa anaknya yang selama ini ‘sangat’ biasa itu berhasil mendapatkan bulu Canis Major. Dalam hari-harinya, Deron masih terlihat biasa saja, tidak ada perubahan, hanya saja, sekarang dia lebih beruntung dibanding Regol musuh besarnya. Tidak ada lagi ejekkan dari teman-temannya, tidak ada lagi kecelakaan sayapnya tersangkut di ranting pohon ketika lomba terbang setiap sore hari. Sampai pada sore itu, dia bertemu dengan Milika yang baru saja mengumpulkan bunga lili.

Milika: (memandang Deron bersemangat) Entah kenapa sekarang aku lihat kau sedikit berbeda dari yang biasanya. (menatap Deron dari ujung kaki sampai kekepalanya).
Deron: (gugup) apakah itu berarti kau memperhatikan aku Milika? (tidak berani menatap mata Milika yang berwarna hijau muda).
Milika: Selalu, kau yang paling beda diantara yang lain! (duduk di batu sambil memilin rambutnya).

Mulailah sejak saat itu, kehidupan Deron berubah total. Tumbuh keberanian dalan dirinya dan kepercayaan diri yang luar biasa. Meskipun tubuhnya kurus, dan tidak sebanding dengan Regol dalam bertarung, Deron memiliki kemampuan mengendalikan diri yang sangat baik. Bulu Canis Major yang katanya membawa keberuntungan sesungguhnya tidak Deron rasakan sama sekali, tapi dia sadar ada hal-hal kecil yang jadi berbeda. Dia dan Milika sekarang jadi sahabat dekat, kemanapun mereka pergi selalu berdua. Tidak ada lagi ejekkan yang dia dengar, bahkan kesialan yang datang bertubi-tubi semakin berkurang.

Sebulan berlalu setelah Deron berhasil mendapatkan satu helai bulu dari Canis Major, itu berarti akan ada pertemuannya kembali dengan Canis Major di hulu sungai Eridanus. Seperti biasanya, semua warga kampung Rorota kembali berkumpul ingin melihat Canis Major. Malam ini, tidak seperti malam satu bulan lalu saat Deron belum mendapatkan bulu Canis Major. Tiba-tiba saja dia merasa ada sesuatu yang berbeda, dia merasakan dingin yang luar biasa, dia membuka kantung di belakang jaketnya, bulu Canis Major itu kembali menyala terang, berkelap kelip, melebihi sinar yang memancar dari tubuhnya, ada sedikit ketakutan yang menjalar ditubuh Deron, tapi dia bisa menguasai dirinya. Duduk berdampingan dengan Milika didahan rindang diatas sungai Eridanus yang berwarna perak, menanti Canis Major.

Kali ini tidak menunggu lama, kedatangan Canis Major sangat cepat, berbeda sekali dengan bulan lalu, ada angin yang menyertainya, angin yang sangat kencang, setiap orang yang berada disepanjang hulu sungai saling berpegangan, bahkan ada yang memilih untuk kembali kepondok mereka masing-masing. Semakin kencang angin berhembus, Deron berpegangan erat didahan pohon, bersama dengan Milika, ada ketakutan di wajah mereka. Tiba-tiba saja, saat bersamaan seperti kilat yang lewat, Canis Major melesat, Deron terbawa bersamanya, hilang sekejap mata, Milika sadar bahwa Deron sudah tidak bersamanya, menghilang.

****

Dibelahan langit yang berbeda, cahaya matahari memancar begitu terik, terdengar suara yang sangat bising dari kendaraan yang berlalu lalang, klakson mobil, dan bau asap yang menyengat, Deron membuka mata, menyadarkan diri, melihat kesekililngnya, selamat tinggal Orionid. *****

CINTA DALAM KOTAK




Wahai kotak hitam masa lalu, apa kabar dirimu? Diatas cawan rindu yg mulai tertutup debu ini, aku sematkan untaian pengantar tidur agar kita bertemu..
Aku sebutkan namamu keudara dalam malam yang makin menua. Di sepertiganya pernah ada cerita kita, kuharap kau tidak pernah lupa.
Euforia semangatmu yang selalu menuntunku, dalam sebuah jalur kawat yang sengaja kau ciptakan, hingga aku sadar disatu malam, bahwa kau pergi..
Kau dengan duniamu dan aku dengan duniaku, tanpa sadar kau ciptakan batas abu-abu sementara aku menapak tanpa ragu hingga perlahan-lahan tau..

RE : jingga mata mu semburatkan rasa ingin tau. Bukan mau ku ciptakan pemisah abu-abu. Tapi duniamu sudah kelewat ceria tanpa aku

Sampaikan salamku dalam secawan rindu, kusebutkan namanya dalam kalbu, semoga dia tau, merasakan, dan satu waktu kita bertemu dalam kotak yang baru.
Kini tidak ada batas di antara senja, fajar, matahari atau sepertiga malam yg terang bulan, biar aku kecup keningmu dan ku ucap dalam RINDU!

RE: Jangan merindu pada ku, dia hanya akan membunuh mu perlahan. Tapi biar lah waktu selesaikan tugasnya. Semoga kotak yang baru itu tercipta segera..

Aku haus akan genggaman, ketika aku berjalan dalam kebimbangan, kurapatkan jemari, dan kurasakan ada balasan, semoga kau bisa merasakan..
Secawan rindu dan hal-hal yg belum terselesaikan..

RE: Secawan rindu ini belum selesai...

Aku menunggu dalam kotak, kotak-kotak persegi empat, yang sampai saat nanti menjaga rasa, rasa cinta dalam dada, cinta dalam kotak, yang akan tetap tertutup debu.

PERTEMUAN TIGA INCHI






Hai, kau pertemukan kami, dalam jarak tiga inchi, aku berdiri lalu kau menari, kemudian pelan kuberbisik, apakah kau benci?

RE: tak sedetik pun benci itu datang merayapi. Ku tetap menari dan dengan penuh harap ku mau kau tetap disini. Dipertemuan tiga inchi

Alarm tengah malamku berbunyi, membangunkan pikiran dalam gelap dan sunyi, ada hati yang sendiri, ingin rasanya segera berlari, pergi..
Aku akan tetap disini, mendengar, merasakan, setiap getaran, lekukan, gelak tawa, atau seteguk air mata yg akan kau bawa, CINTA

RE: Aku tergelak. Apa itu CINTA? Tidak dalam satu nafas pun aku dapat rasakan itu. Yang aku tau, aku hanya menari bahkan saat air mata ini turun

Biar saja kuhantarkan perasaan yang teramat dalam itu kedalam malam tak bertuan, cinta hanya cerita soal rasa, akan hilang segera.
Kuharap bahagia yang tidak punya rupa tanpa batas,

RE: Yang bermula tanpa awal dan tiada pernah berakhir
RE: Aku menunggu hal-hal itu selesai. Cepat atau lambat. Bahagia atau... Terka lah
RE: Sebentar lagi mentari tampak. Ku kirim malaikat untuk  menyelinap diantara kantuk mu.

--Dan aku tertidur, terpejam dalam setumpuk kerinduan yang menghujam--


SERBUK SARI RINDU





Dan kusambut rindu bersama hangatnya matahari pagi.
Ada hadirmu dalam setiap embun yang dingin, menyelinap dalam kalbu.
Aku buka kelopak mata, dan ternyata kau telah tiada.
Aku ketuk pintu hati, membukanya lebar-lebar, menyiapkan jamuan cinta yang datang ketika harum tubuhmu perlahan-lahan merambat melalui dinding-dinding yang dingin.

Tertanam seperti akar, tumbuh seperti dahan pohon, dan menjulang tinggi seperti menara,
Itulah cintaku untukmu.

Biarkan dawai-dawai asmara itu bernostalgia,
Tentang pertemuan-pertemuan kita disatu malam tanpa bintang, tanpa rembulan,
Rindu yang bersayap, terbangkan asa yang hampir putus asa,
Cinta tak berdawai, menggesekkan namamu syahdu ditelingaku,
Saat malam tiba, aku berdiri dalam sendiri disini, menanti, sesuatu yang tidak pasti.

Dan kamu,
Tebarkan pesonamu seperti kelopak mawar yang merekah harumnya bersimbah, dalam diri yang resah.
Dan kamu,
Seperti kupu-kupu yang mengantarkan serbuk sari cintamu, hinggap diatas rambutku yang berkepang dua, kau sebarkan aromanya melalui sayap-sayap kelabu sang kupu-kupu, hinggap, kemudian pergi dan menghilang.

Label