Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Selamat Pagi Tanda Titik

Ini adalah pagi pertama dari tidur panjang semusim yang sudah berlalu,

Ada setumpuk pengharapan yang terburai dalam semalam melalui rangkaian kata,

ada sederet pertanyaan yang kian memudar terucap dari tanya bertanda diakhir tahun,

Semua itu seperti tersapu ibarat debu terbawa angin semalam,
yang tersiram lembut embun pagi tanpa bersisa,
jadi terkulai lemah bagai ilalang-ilalang coklat di pematang ladang nun tandus,

ketidaktercapaian yang melulu akan kian menjadi bisu,

Katakanlah sebuah target usang yang sekelebat datang menjejak diatas pasir-pasir karam dipesisir pantai kala seperempat senja memulai sapa.

Jumat, 06 April 2012

Hatiku Kebas

Foto From: Ibadurrahman (http://ibadurrahman.deviantart.com/art/Sunset-Alone-173165091)
Aku memangkas rindu itu perlahan dalam setiap guratan malam..
Meletakkannya sembunyi-sembunyi dalam bilik berjamur, agar kasat oleh mata, dan lupa akan rasanya.
Hening dan pengap meluap-luap dalam sesak tak berkesudahan, kala ornamen bernama rindu itu hilir mudik dalam dada.
Kudapan kosong, tak juga enyah, kadang meredup, kadang gegap gempita berkelap kelip, tetap rindu..
Hai kamu, jadilah sebagai pusat bahagiaku,

- Aku Meminta Malu-malu -

kemudian sepi sekonyong-konyong tanpa permisi datang, kamu diam.
Kita berdua telah melewati jeda, yg sama-sama bermuara disatu rasa, tapi siapakah yg tahu rasa? Sesembunyi tetap berkerut, membekas didada..
Kembali aku pengap, sendiri bersembunyi, megap-megap tak dapat jawab, alih-alih menunggu lagi, alamak, rinduku bagai diternak..
Ah, sudahlah, sepintas lalu saja, sesempatnya saja, menyirami ternak rindu itu bagai gersang yg menunggu hujan, semoga saja tak mengering..
hatiku kebas!!

Hujan dan Secangkir kopi


Coffee and Rain (taken from: http://www.leegleiser.com/blog/?p=294)
Apa jadinya kala rasa ini melipir kesebuah sudut segi tiga
yang disetiap sisinya ada riak basah karena percikkan air hujan
yang disetiap sisinya bertinggal bekas jatuhan air hujan

Apa jadinya kala rasa ini terhenti pada tempat teduh yang menyelamatkan
dari rentetan air hujan
dari basah
dari dingin yang ditinggalkan hujan
dari aroma abu yang berbekas
kemudian menimbulkan hangat yang ternyata tercipta hanya sebentar saja

Apakah jadinya saat hujan tanpa kaca dibalik jendela
duduk merenungi tiap titik butiran putih bening
melesat cepat berebut membumi ke tanah
kemudian ada tempias meski hanya titik titik kaca bak mutiara

Dan,

Apakah jadinya ketika tak ada secangkir kopi yang ikut merangkul kala hujan berebut turun ketanah?

hai, biar aku kutipkan sebuah dialog bias-bias hujan dan secangkir kopi:
"Kau tahu aku ini hanya datang sebentar?" bisik rerintik hujan

dalam asap mengepul dicangkir kaca bening ia menjawab:
"Tak jauh beda kita, pun demikian aku datang, hitungan waktu saja aku mendingin kembali dan kepulan asap ini akan menghilang diselimuti udara kosong."

Dan rerintik hujan itu seperti tersengat dinginnya sendiri,
tak menjawab secangkir kopi yang kala itu masih mengepul dalam lingkar kakunya

"Aku datang sebentar saja, dan begitu juga dengan kamu, tak perlulah kita mengulur waktu hingga nanti dingin menepi, hangatkan aku sejenak, kemudian aku pun berpamit diri..."

Hujan itupun menengadahkan jatuhnya, melambatkan jatuhnya, membiarkannya saja mengalir...

Apa jadinya kala hujan bergemuruh itu datang kemudian kepulan asap dalam cangkir berisi kopi menemuinya?

Dalam sesaat akan tercipta hangat,
melesat mampir dalam diri,
meninggalkan bekas tanpa harus bertatap ulang kala hujan datang kembali..

Selasa, 13 Desember 2011

Aku hanya menanti angin kosong ---


Bersama angin aku turut berharap, namun tetap saja kosong...




Malamnya gelap gulita,
Langit rata tertata tanpa awan, hanya satu pekat sekat gelap sejauh mata memandang,
Terduduk diri ini dalam beranda taman menekuk kaki dan memeluknya dalam dingin,
Semilir bau tanah dan rumput basah setelah seharian tersiram hujan menusuk diam-diam kedalam hidung.
Bisikan angin-angin malam membawakan sejumput pengharapan dari pengirim surat tanpa pengantar yang sejak lama ditunggu-tunggu,
Aku terpaku, masih saja terpaku seperti dulu,
Menjentikkan jari jemari kelangit, seolah berdebat dengan rasi bintang yang kosong karena langit bersih kala itu,
Seberapa banyak kata yang harus aku keluarkan beriringan dengan denting air hujan yang merayap deras di atas atap rumah pohon? Agar aku bisa menjelaskan lebih terperinci setiap detail isi hati,
Mendayu-dayu semilir anginya,
Bersorak-sorak dalam damai yang asing,
Bergelayutan bersama ranting basah yang lapuk oleh rindu,
Alah, ada kata rindu lagi terucap, bahkan sudah aku lupa bagaimana rasanya rindu itu merajuk pada hati yang biru.
Kata-kata ini rasanya tidak juga cukup mewakilkan rasa semrawut dalam dada,
Hanya bisa sejenak menepikan rasa, kemudian tidak sabar seolah seperti ingin melebarkan, membentangkan layar agar terkembang melaju kedepan namun berjalan mundur tanpa sadar dalam diam yang masih saja diam,
Kembali aku sadari terduduk merapatkan kaki diatas bangku kayu beranda yang basah,
Seperti berdialog dalam bahasa alam yang verbal namun kasat mata,
Bercerita bersama angin kosong yang tidak membawa kabar apapun, kosong --- 

Selasa, 06 Desember 2011

Sebuah Catatan Kaki

"Hanya beberapa kali dia bicara,
tapi sunggguh itu sudah membuatku gila!"


                                                                      "May l Fall in love -with you- again?"




Biarlah,
Aku tinggalkan namamu dan nama kita diatas pasir sepanjang pesisir pantai Kuta,
terhempas bersama ombak,
dan kemudian terombang ambing, terhempas batu karang,
hilang dikejauhan,
melebur bersama terumbu karang


(28 November 2011)

Kuiringi Kau Jelang Tidurmu...

Foto from google, candle light -
Aku biarkan daun cemara menunduk bersahaja,
Meneteskan sisa sisa air hujan yg bergelayut di daunnya yg kasar,
Meninggalkan baunya yg menusuk hidung,

Kau kutemui kala matahari menyeruak di belahan kabut temaram seperempat pagÏ menjelang,
Kemudian kau kujumpai waktu sengat panas memompa canda ditengah lelah siang hari
Lalu,
Kau ku iringi saat purnama sepenggal bergelayut romantis pada dinding langit gelap yang dititah bintang bintang,

Selamat istirahat wahai jiwa-jiwa yang lelah,
Jiwa-jiwa yang haus akan cita,
Jiwa-jiwa berkeringat yang bersahaja,
Jiwa-jiwa yang masih punya jiwa,
Melanjutkan perjuangannya,

Aku,
Merapatkan tangan, menengadah, meminta, agar jiwa-jiwa itu (kamu) selalu ada dalam lingkup bahagia yang berdahaga dalam bahagia, cendrung absurd dalam cahaya, dan cemerlang seperti bintang,

Selamat malam,
Selamat istirahat,
jakarta, 5 Desember 2011 [22.27 pm]

Senin, 14 November 2011

Aku Hanyalah Wortel

Aku hanyalah sepotong wortel di atas sup jatah sarapan pagimu..


Bahkan kadang-kadang aku bertukar peran dengan potongan tomat dilapisan sandwich mu, aku bukanlah keju, atau susu coklat yg selalu kau pilih


Aku ibaratkan aku ini musik dangdut yg tak disukai, karena di ipod touch mu itu hanya ada lagu hip hop, jazz, atau mozart


Tapi kadang-kadang juga, aku menjelma jadi jus labu kuning, kau buang ampasku, lalu kau ambil sari patiku, aku terimakasih


Dan ternyata, Kita adalah kotak persegi empat, yang mencoba masuk kedlm lingkaran, kamu tau jadinya apa? Sbuah lipatan sobek dberbagai sudut


------------------------------------- 12 November 2011

Selasa, 08 November 2011

CINTA DALAM KOTAK




Wahai kotak hitam masa lalu, apa kabar dirimu? Diatas cawan rindu yg mulai tertutup debu ini, aku sematkan untaian pengantar tidur agar kita bertemu..
Aku sebutkan namamu keudara dalam malam yang makin menua. Di sepertiganya pernah ada cerita kita, kuharap kau tidak pernah lupa.
Euforia semangatmu yang selalu menuntunku, dalam sebuah jalur kawat yang sengaja kau ciptakan, hingga aku sadar disatu malam, bahwa kau pergi..
Kau dengan duniamu dan aku dengan duniaku, tanpa sadar kau ciptakan batas abu-abu sementara aku menapak tanpa ragu hingga perlahan-lahan tau..

RE : jingga mata mu semburatkan rasa ingin tau. Bukan mau ku ciptakan pemisah abu-abu. Tapi duniamu sudah kelewat ceria tanpa aku

Sampaikan salamku dalam secawan rindu, kusebutkan namanya dalam kalbu, semoga dia tau, merasakan, dan satu waktu kita bertemu dalam kotak yang baru.
Kini tidak ada batas di antara senja, fajar, matahari atau sepertiga malam yg terang bulan, biar aku kecup keningmu dan ku ucap dalam RINDU!

RE: Jangan merindu pada ku, dia hanya akan membunuh mu perlahan. Tapi biar lah waktu selesaikan tugasnya. Semoga kotak yang baru itu tercipta segera..

Aku haus akan genggaman, ketika aku berjalan dalam kebimbangan, kurapatkan jemari, dan kurasakan ada balasan, semoga kau bisa merasakan..
Secawan rindu dan hal-hal yg belum terselesaikan..

RE: Secawan rindu ini belum selesai...

Aku menunggu dalam kotak, kotak-kotak persegi empat, yang sampai saat nanti menjaga rasa, rasa cinta dalam dada, cinta dalam kotak, yang akan tetap tertutup debu.

PERTEMUAN TIGA INCHI






Hai, kau pertemukan kami, dalam jarak tiga inchi, aku berdiri lalu kau menari, kemudian pelan kuberbisik, apakah kau benci?

RE: tak sedetik pun benci itu datang merayapi. Ku tetap menari dan dengan penuh harap ku mau kau tetap disini. Dipertemuan tiga inchi

Alarm tengah malamku berbunyi, membangunkan pikiran dalam gelap dan sunyi, ada hati yang sendiri, ingin rasanya segera berlari, pergi..
Aku akan tetap disini, mendengar, merasakan, setiap getaran, lekukan, gelak tawa, atau seteguk air mata yg akan kau bawa, CINTA

RE: Aku tergelak. Apa itu CINTA? Tidak dalam satu nafas pun aku dapat rasakan itu. Yang aku tau, aku hanya menari bahkan saat air mata ini turun

Biar saja kuhantarkan perasaan yang teramat dalam itu kedalam malam tak bertuan, cinta hanya cerita soal rasa, akan hilang segera.
Kuharap bahagia yang tidak punya rupa tanpa batas,

RE: Yang bermula tanpa awal dan tiada pernah berakhir
RE: Aku menunggu hal-hal itu selesai. Cepat atau lambat. Bahagia atau... Terka lah
RE: Sebentar lagi mentari tampak. Ku kirim malaikat untuk  menyelinap diantara kantuk mu.

--Dan aku tertidur, terpejam dalam setumpuk kerinduan yang menghujam--


SERBUK SARI RINDU





Dan kusambut rindu bersama hangatnya matahari pagi.
Ada hadirmu dalam setiap embun yang dingin, menyelinap dalam kalbu.
Aku buka kelopak mata, dan ternyata kau telah tiada.
Aku ketuk pintu hati, membukanya lebar-lebar, menyiapkan jamuan cinta yang datang ketika harum tubuhmu perlahan-lahan merambat melalui dinding-dinding yang dingin.

Tertanam seperti akar, tumbuh seperti dahan pohon, dan menjulang tinggi seperti menara,
Itulah cintaku untukmu.

Biarkan dawai-dawai asmara itu bernostalgia,
Tentang pertemuan-pertemuan kita disatu malam tanpa bintang, tanpa rembulan,
Rindu yang bersayap, terbangkan asa yang hampir putus asa,
Cinta tak berdawai, menggesekkan namamu syahdu ditelingaku,
Saat malam tiba, aku berdiri dalam sendiri disini, menanti, sesuatu yang tidak pasti.

Dan kamu,
Tebarkan pesonamu seperti kelopak mawar yang merekah harumnya bersimbah, dalam diri yang resah.
Dan kamu,
Seperti kupu-kupu yang mengantarkan serbuk sari cintamu, hinggap diatas rambutku yang berkepang dua, kau sebarkan aromanya melalui sayap-sayap kelabu sang kupu-kupu, hinggap, kemudian pergi dan menghilang.

MENARI DI ATAS KERINDUAN




Diatas langit malam yang bertabur bintang
Dalam heningnya hati yang melayang
Kau usik dengan semburat wajahmu yang sekejap datang tiba-tiba

Gemuruh ombak disatu senja yang menghempas karang
Jeritan burung Maleo yang memecah hening senja ditengah hutan pantai
seolah meneriakkan nama yang selalu berputar-putar dalam alam bawah sadarku

Kita ini jelas berbeda,
kau diujung senja dan aku di di ufuk fajar,
kau dipelabuhan dan aku ada ditengah lautan,
aku hujan dan kau adalah pelangi
kita tidak pernah bisa sama…

Satu jiwa untuk dua cinta
Satu rasa tapi tidak serupa
itulah kita

Ingin sekali rasanya aku akhiri sebuah melodrama dalam alunan musik orkestra
Ingin sekali rasanya aku akhiri sebuah perasaan gundah gulana yang melelahkan

Kau buat aku menari
menari diatas kerinduan
Kau buat aku menari
menari diatas kecemasan
Kau buat aku menari
menari di atas kesakitan
Kau buat aku menari
menari diatas ratapan
Terus saja perhatikan, aku akan terus menari hingga kedua kaki ini tidak dapat berdiri kembali….
Sekali lagi kau biarkan,
Aku menari diatas kerinduan tak bertuan.


BEBASKAN AKU CINTA




Ketika aku meniti malam disepanjang jalan yang memburam,
tak satupun kutemui ketenangan dalam hening yang mencekam.
Ketika aku hirup bau embun basah disela-sela hujan,
tak sedikitpun aku menemukan celah untuk dapatkan ketenangan.
Ini adalah sebuah drama yang melankolis,
yang akan berakhir dengan dramatis dalam bait-bait yang begitu dinamis.
Selembut gerakan balerina dalam hipnotis musik klasik,
yang mengantarkan pada satu ritme yang berujung sama.
Dalam diamnya aku rasakan,
getaran-getaran yang kasat mata,
dalam diamnya aku rasakan,
hentakkan jiwa yang terus menggelora,
dalam diamnya aku rasakan,
gemuruh semangat cinta yang membahana.
Aku bukan seorang pujangga yang bisa bercinta dengan kata,
aku juga bukan seorang musisi yang bisa berdansa dengan nada,
biarkanlah aku merasakannya secara seksama,
dengan sedikit ketenangan jiwa,
sedikit saja,
biarkan aku,
bebaskan aku cinta…

TIDAK TERDEFINISI



Deskripsi singkat tentang dia yang namanya terukir erat dalam pikiran ini. Awal dari ciptaan Tuhan yang luar biasa kuat, setelah mama. Memiliki sifat yang begitu tegas sekaligus lembut bersamaan keduanya. Sosok wibawa yang selalu mengamati dari belakang, dan selalu siaga setiap kali kita dalam keadaan susah. Pria dewasa, yang berusaha membahagiakan setiap orang yang ada disekitarnya tanpa terkecuali, anak maupun istri. Selalu ingin melihat keutuhan keluarga, dia adalah imam sekaligus pemimpin yang sangat bijaksana, dialah sosok pelindung yang bersahaja, Luar biasa, dan aku jadikan dia sebagai simbol kedamaian, penetral suasana bagi sebagian wanita, selalu cerdas membuatku tertawa. Ayah yang selalu menunjukkan bahwa kita adalah kita, bukan siapa-siapa namun penuh makna dalam keluarga. Rendahkan diri di atas tahtanya demi keluarga. Selalu dan selalu akan menjadi panutan sepanjang masa. Memimpin keluarga dan paling mengerti rumah tangganya.
Dalam sebuah catatanku yang usang tertutup debu, aku menyingkap kenangan yang sudah lama aku tinggalkan bersama terbalut rindu yang tidak menentu. Tidak sedikitpun terbersit dalam khayalan disetiap kesempatan apapun, bahwa, pada akhirnya aku akan bertemu saat-saat ketika aku harus melihat, yang tidak terdefinisi, pergi dalam sendiri, berpisah, dan keluar dari hidupku selamanya. Hingga aku sadar, bahwa ini adalah kehilangan yang sesungguhnya, dia yang aku cintai dalam doa, dalam nafas, dalam langkah dan jejak hidupku, tak akan pernah sedikitpun lepas dari ingatanku.
Marahnya adalah cinta, kepenatannya adalah cinta, tangisannya dalam sepenggal malam adalah cinta, keringatnya adalah cinta, kerja kerasnya adalah cinta, perjuangannya adalah cinta, diamnya adalah cinta, anggukan kepalanya adalah cinta, setiap bahasa tubuhnya adalah cinta, cinta yang kasat mata, tidak tertulis, hanya tersirat.
Panas matahari yang membakar kulit cokelatnya, debu-debu disetiap jalan yang menempel pada wajahnya, atau deras hujan yang membuat tubuhnya menggigil, semua tidak pernah diperhitungkan olehnya. Caci maki, hinaan, pujian, tertawaan, guyonan baik ataupun buruk, singgungan, semua tidak pernah akan melukainya karena hatinya sekeras batu karang yang tidak pernah hancur terbentur ombak di samudra.
Kala siang berpeluh keringat, kala malam bermandi hangat bersama keluarga. Senyuman ku, Mama, adik, kakak, adalah harga mati dari bahagianya Ayah yang ia beli dengan susah payah. Setiap sen rupiah yang keluar dari kantongnya tidak akan pernah dimintanya kembali, tidak akan ada perhitungannya, tidak akan ada untung ruginya.
Tak kasat mata ketika aku sadar bahwa Ayah kini tiada. Sosok yang selalu aku kagumi telah pergi, meninggalkan kami disini. Entah ketika saat saat itu datang aku sedih atau kecewa, sedih karena ternyata Ayah tak menepati janjinya untuk selalu menemani kami bersama-sama, dan kecewa karena Tuhan mengambilnya begitu cepat. Kehilangan sosoknya ketika aku tumbuh dalam masa remaja. Aku dalam sisa-sisa air mata, mengingat ketika ia dibaringkan dalam tempat pembaringan terakhirnya, dan akan hilang selamanya dari pandangan mata, akupun berkaca-kaca tanpa bicara, Saat dulu Ayah ada, aku selalu memandangnya dalam setiap tidurnya, dan kini, aku memandangnya terbaring dalam tempat tidurnya yang terakhir. Diatas namanya yang terukir dibatu abu-abu, aku tersimpuh tak mau beranjak, tak ingin pergi meninggalkannya, ingin selalu ada bersamanya, ingin memeluknya setiap saat dia kembali membuka pintu rumah. Kepergiannya mendewasakanku, kehilangannya memberikan arti bagiku. Dan air matapun jatuh, kembali mengingatnya... yang tidak terdefinisi.
*****

Singing: Dance with my Father - Luther Vandros

TINGGALKAN MIMPI




Kembalikan aku ke masa lalu, saat aku beranjak dari diri yang sepertinya layu, dipaksa membuka mata menuju dunia yang kabarnya mempesona.
Aku juga diminta untuk meninggalkan dia yang dulu kita berdua, lari dalam langkah-langkah kecil diatas pasir  dreamland, meninggalkan jejak mungil di atasnya, menuliskan nama kita diatas pasirnya yang putih, lalu terhapus lagi oleh ombak-ombak dan buih-buihnya yang putih cantik.
Ada lekukan pada setiap gerakan tarian cinta yang tercipta diantara kita, namun habis saat musik berhenti diputar.
Aku benar-benar menghilang tinggalkan semuanya dalam kenangan. Menapak mengukir jejak, menuju mimpi yang aku sendiripun tidak tahu maknanya.
Kini, aku kembali,
Melihat ke tempat saat aku melupakan semuanya, merasakan kehadirannya yang sudah tak berwujud berupa, hembusan canda tawa, gemericik air dari pancuran, dan cerita-cerita tentang mimpi, semua masih ada disini, namun telat aku kembali, mereka telah pergi.
Setiap kenangan adalah harta,
Setiap kenangan adalah lorong waktu,
Setiap kenangan adalah mimpi,
Aku pergi meninggalkannya, ikut dewasa bersama dunia, namun melupakan mereka dalam tawanya.
Tidak ada tangisan dalam kerinduan, tidak ada warna dalam senja, dan tidak terasa ketika luka..
Aku tinggalkan mimpi, bersama jejak jejak dirimu disini yang setia bersamaku,
Diatas batas karang ini aku berdiri, melipat tangan merangkul diri sendiri, memandang awan, memandang pantai, memandangi pelangi, tetap saja sepi, tak bisa lagi ku kembali.


Inspiring form the song Lembayung Bali by Saras Dewi

BERNYANYI DALAM KENANGAN




Sudah aku tutup saja catatan harian yang selalu aku bawa kemana aku pergi
dalam lembar terakhir aku tandai bahwa ini benar-benar sudah berakhir,
tidak akan ada perbaikan atau semacamnya,
tidak akan ada pengulangan atau sejenisnya,
hanya akan jadi catatan-catatan yang suatu waktu nanti aku siap untuk membukanya.
Kisah tentang cinta-cintaan itu sepertinya tidak ada habisnya,
seribu orang bosan membacanya
karena hanya bergulat dalam satu tema saja,
satu alur saja,
jatuh cinta, kasih mengasihi, dan ada dua pilihan ending,
bahagia lalu lanjut kepernikahan sampai maut memisahkan,
atau putus ditengah jalan dan sedih yang berkepanjangan mengiringi malam-malam yang sepi.
itulah, ending bahagia yang jatuh cinta, atau patah hati yang jatuh cinta.
Sempat ada keinginan membuka lembaran catatanku itu yang masih rapih,
aku baca halaman pertama, runtutan kisah-kisah bahagia,
kemudian aku berhenti,
langsung aku ingat di halaman terakhir ada tetesan air mata,
karena kehilangan.. iya,  rasa kehilangan yang begitu sulit di deskripsikan
ada perbedaan jarak antara rentan waktu,
aku tak bisa merabanya, karena begitu cepat datang dan pergi,
aku juga tidak bisa melihatnya, karena seakan kasat mata,
ini adalah yakinnya aku yang yakin meyakinkan diri,
melihat kali terakhir pertemuan  seperti puisiku terdahulu,
yang kita begitu berbeda,
aku jelas sebetulnya sudah tahu, bahwa ini ya memang sudah berakhir,
dia sudah sangat bahagia disana,
disana yang terbentang langit Jimbaran yang berhias bintang-bintang,
disana bahagianya dia melingkar dibawah selimut Uluwatu,
dan disana dia bahagia serentak dengan hentakkan musik disco di sepanjang Seminyak...
disana dia yang bahagia bersemarak dengan deburan ombak Dreamland..
Satu ini memang sudah berakhir, biar sajalah berakhir,
hanya saja ingatan-ingatannya yang masih cukup kuat melekat,
file foto-fotnya yang masih tersimpan rapih dalam kotak hitam,
atau sebuah pemantik yang sengaja aku ambil darinya karena itu barang kesayangannya,
lihatkan, jelas sekali aku masih saja mengenangnya,
tapi sudahlah, itu hanya sebuah lelucon patah hati,
yakin saja bahwa berakhirnya ini akan datang satu waktu awal baru yang segera di mulai
dan bersiaplah kedatangan cerita-cerita baru,
persiapkan hati ini untuk dia yang belum tahu sudah sampai dimana,
hanya tinggal tunggu saat yang tepat ketika hati ini sudah lahir lebih kuat..
semoga lebih kuat!


Inspiring from the song Move On by Andien

SELAMAT MALAM IBU



Selamat malam,
Kau menungguku dengan setia,
Duduk dikursi kayu tua di ruang tamu,
Entah sambil tertidur pulas, atau sambil duduk bersenda gurau dengan dia yang mencintaimu,
Aku ketuk pintu mungkin hampir tengah malam,
Aku tekan bell mungkin hampir sepertiga pagi,
Saat seisi rumah pulas dibalik selimut, engkau tetap bergegas bangun, terdengar langkah-langkah tergesamu dari luar, satu pertanyaan saat engkau muncul dari balik pintu:
"Sudah lama 'nang?"
Aku lihat wajahnya dibawah lampu teras depan yang temaram, ada beberapa lipatan diantara kedua matanya, dan sekilatan uban putih berpantulan dari kepalanya..
Meskipun terlihat betapa ia terkantuk-kantuk, tanpa berat hati menawarkanku untuk makan masakannya tadi sore, atau menawarkanku air hangat untuk cuci muka atau mandi kalau mau,
Kemudian mengantarkan aku kekamar, dan bertanya sekali lagi, apakah mau aku disiapkan makan malam meski aku tahu itu sudah begitu larut.
Berulang setiap harinya,
Usianya semakin menua,
Tapi satu yang tidak pernah menua darinya,
Cinta kasihnya kepadaku yang begitu besar,
Sayangnya yang tak berubah, dan perhatiannya yang semakin hari semakin bisa aku rasakan..
Terimakasih Ibuku,
Aku sungguh mencintaimu..

Inspiring frong Song For Mama, Boyz ll Men

DALAM GARIS BATAS





Dalam garis batas yang tercipta diatas khatulistiwa, aku tertegun dikurung diam, meraba dalam gelap, dan berbicara tanpa suara.
Dalam  garis batas yang tercipta diatas khatulistiwa, ada dingin yang menyergap, ada panas yang merayap, dan ada gelisah yang tidak berwujud.
Aku adalah sebuah representasi dari kamu, yang memiliki dua hati kemudian menyatu, tapi lalu menghilang.
Aku adalah sebuah representasi dari kamu, yang mencari, yang berbicara dengan awan, yang berlari bersama bintang, berucap salam bersama rintik hujan,
Aku resah, aku gamang, aku dalam rindu yang lembab, aku yang kering, aku yang tidak berotasi, aku yang diam, aku yang menari bersama cinta, sendiri.
Aku tertawa dalam jatuhnya hujan, aku mengurung hati dalam mimpi, dan kau berlari setelah kau nikmati.
Aku berpeluk rindu, berharap dalam setiap jejak mentari, dan tidak berhenti menanti.
Tertidur di atas jerami yaang lembab, terpejam dalam lelap, ada hembusan nafas yang didalamnya akan selalu beriring sebuah nama, adakah harapan yang sama?
Lama aku membelah garis batas, disetiap bisikan yang pernah aku dapatkan, dan disetiap sentuhan yang selalu aku rasakan.
Rembulan membekukan rasa rindu, mendinginkan hasrat ingin bertemu, dan menghancurkan dinding waktu.
Kita pernah bertemu, dulu, ketika waktu masih menyatu, aku dipelukmu, aku digenggammu, aku didekapmu, adakah kau rasakan itu?

Dalam garis batas kau ciptakan sebuah mimpi, kau buat sebuah harapan, kau bangun cinta, dan kita nikmatinya bersama..
Semoga masih sama...



(Taken from the song, Agnes Monica, Rindu)

Kamis, 28 Juli 2011

Jingga




Aku bermandi cahaya dikala mentari bersinar
Aku berpeluh air mata ketika purnama merona

Malam, mendewasakan
Dan Siang banyak mengajarkan

Fajar, aku berlari
Dan senja aku menyendiri

Senyumku tiada henti menatap nanar wajahmu yang semakin memudar
Keringatku mengalir kutumpahkan hanya untuk semangatmu

Lekuk wajah,
Sorot mata,
Harum tubuh,
Gerlak tawa,
Kini tiada bisa aku sentuh

Aku bermandi cahaya dikala mentari bersinar
Aku berpeluh air mata ketika purnama merona
Aku jingga, saat mentari meninggalkanmu, meninggalkanku, meninggalkan kita, menutup cerita, mengakhiri hitungan dalam jatuhnya detik dalam jam pasir…

Senin, 25 Juli 2011

Katakan saja...

Katakan saja apa yang kamu mau, aku akan beri
Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, aku akan dengarkan
Katakan saja apa yang kamu butuhkan, aku akan penuhi
Katakan saja apa yang kamu rasakan, aku pasti bisa merasakan
Katakan saja apa, maka akan aku jawab
Katakan apa yang ingin kamu tanyakan
Katakan apa yang sebenarnya kamu cari, aku pasti akan temukan
Katakan apa yang membuatmu menangis, aku akan membuatmu tersenyum
Katakan apa yang membuatmu tertawa, aku akan buatmu bahagia
Katakan apa apa saja yang ingin kamu katakan,
Aku disini, berdiri, menanti, menunggu, dan pasti akan memenuhinya,
Katakan jika kamu butuh cinta, maka aku akan mencukupinya...

Senin, 04 Oktober 2010

KENAPA MEREKA –INI CINTA- ?


Kenapa orang-orang itu harus datang dalam kehidupan aku?
Kenapa orang-orang itu harus aku temuin dalam kehidupanku?
Kenapa harus mereka yang sekarang selalu ada dalam setiap pembicaraanku?
Otakku?
dan Hatiku?
Apakah tidak ada orang-orang lain?
Pada saat cinta itu datang,
Gak ada satupun yan bisa menghadang,
Gak ada larangan yang menentang,
Gak ada keraguan yang akan datang!
Kini cinta itu telah singgah, berlabuh ke dermaga hatiku, dan mau atau tidak, aku harus melayaninya dengan kasih yang senantiasa akan menunjukkan jalan terang dalam cinta yang tak akan pernah karam...
Cinta yang akan membuat aku selalu tersenyum meskipun ketakutan sedang datang mengintaiku,,
Dan biar saja merek-mereka itu yang selalu memenuhi otakku, membantuku dalam membuka celah cahaya bulan yang juga akan mengantarkanku menuju singgasana cintaku dalam sebuah pasukan bijak yang melindungiku hingga akhir ajalku...
Ini benar-benar cinta...

Semuanya Tanpa Definisi,    Tanpa Teori,    Bagkan Penjelasan Menurut Logika?    Semua sulit Di Cerna,    tidak Terdeteksi,    Dan Termodifikasi dengan baik,  Semua Perasaan Yg ada di Dalam Dada Ini...

Label