Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

ORIONID



Dan terbentang sayap Deron yang berwarna perak saat dia melompati pohon kering yang tinggal tersisa batang-batangnya saja. Mukanya kesal, memerah, tubuhnya yang hanya sebesar ibu jari itu melayang-layang tidak tentu arah meliuk liuk terbawa angin. Kepak sayapnya memastikan dia menuju kemana, pondok coklat kecil yang terletak diujung desa, kampung Rorota.
Foto taken from Google

Mama: Seperti biasa, pulang kerumah mukanya masam, pasti gara-gara Regol?
Deron: (Bertolak pinggang) Siapa bilang, aku hanya kepanasan, cuaca diluar sangat panas, mataharinya sangat terik Ma, sudah, aku mau kekamarku dulu.
Mama: Tidak mau habiskan madumu dulu Deron? (Mama menawarkan semangkuk madu merah pekat dan sangat kental kepada Deron yang hendak masuk kekamarnya)
Deron: (tidak menjawab, menutup pintu kamarnya yang terbuat dari kayu oak, lalu menguncinya dari dalam)
Mama: (Mencoba mengetuk pintu) Deron, berapa kali mama bilang, jangan berteman dengan Regol dan kawan-kawanya, mereka bukan anak baik-baik, mereka terlalu brutal, Mama tidak senang kamu berteman dengan mereka. (Mama kembali mengetuk pintu perlahan, membujuk Deron)
Deron: (Dari dalam kamarnya, menutup telinganya dengan topi kupuluknya, menariknya hingga kebagian leher)
Mama: Baiklah, mama simpan jatah madumu siang ini di lemari pendingin, jangan sampai dihabiskan Melda, adikmu sebelum ia pulang dari kelas terbangnya. Mama mau ke rumah Bibi Lora, sejam nanti kembali. (suara pintu tertutup dari luar, dan kemudian hening).

****

Diceritakan ada sebuah kampung bernama Rorota, hiduplah sekelompok kecil  manusia dengan wujud seperti kurcaci, mereka sekecil ibu jari. Bentuk tubuhnya persis seperti manusia, hanya saja mereka sangat kecil. Menurut cerita yang beredar dan turun temurun dari generasi mereka, mereka adalah sejenis peri rumah yang hidup sangat jauh dari bumi. Mereka hidup di sebuah garis orbit bernama Orion. Bentuk mereka sama dengan manusia, hanya saja mereka memiliki kulit berwarna jingga, dan ada sayap yang terbentang dipunggung mereka, mereka bersinar disetiap gelap datang.

Tidak banyak populasi mereka, satu kampung itu hidup seperti keluarga besar yang tinggal dalam kompleks. Mereka saling mengenal satu sama lain, hidup damai dan bersahaja. Tidak ada korupsi, tidak ada demonstrasi, tidak ada polusi, semua bersahaja dalam hidupnya. Terkecuali remaja bernama Deron, hidupnya sangat penuh masalah. Anak tertua dikeluarga Betelgeuse ini memiliki rasa percaya diri yang sangat sedikit, badannya yang kurus, berbicaranya yang sedikit cadel, dan kesialannya yang luar biasa dimanapun ia berada membuatnya semakin merasa bahwa dialah yang paling berbeda di kampungnya sendiri. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan kekesalan, ejekan dari teman-teman seumurnya, terutama dari temannya yang bernama Regol membuat Deron semakin benci dengan kehidupannya di kampung Rorota itu. Ayahnya Betelgeuse adalah seorang penasehat hukum di kampungnya, ayahnya terkenal sebagai orang yang cerdas, berwibawa, dan memiliki kemampuan bersinar dengan tiga warna bergradasi dalam gelap, semua orang sangat menghargai Betelgeuse, Ayah Deron, sang Maha Agung.

****

Malam yang cerah, cahaya bulan yang redup tak menghalangi anak-anak kampung Rorota bermain disepanjang sungai Eridanus. Aliran sungai dari jauh terlihat berwarna perak, berkelap kelip disepanjang hulu sungai, cahaya yang terpancar dari tubuh-tubuh mungil mereka. Suara nyanyian dari dahan-dahan pohon yang rendah seperti paduan suara yang teratur ritmenya. Disana, didahan-dahan pohon itu, berkumpul gadis-gadis cantik dari kampung Rorota, rambut mereka tergerai indah, menggunakan gaun malam yang terbuat dari sutra tipis panjang berwarna biru. Cahaya yang keluar dari tubuh mereka berwarna abu-abu cerah, mereka duduk didahan-dahan kayu, bernyanyi. Daron, duduk di batu paling ujung hulu sungai, sendiri, cahayanya berwarna putih terang, dia tidak ingin bergabung dengan teman-temannya, bosan rasanya dia menjadi bulan-bulanan Regol dan kawan-kawannya. Matanya tertuju ke sungai Eridanus, disana ada bayang-bayang samar dari sosok gadis berambut hitam tipis yang duduk di dahan pohon tak jauh darinya, Mintika namanya, sudah lama sekali Deron menyukai mintika yang berlesung pipi, suaranya yang paling merdu diantara suara-suara yang bernyanyi malam itu.

Kebiasaan berkumpul di hulu sungai ini ada setiap menjelang akhir bulan menuju musim semi, sebelum kelopak lili terbuka, anak-anak kampung berkumpul disepanjang hulu, ingin menyaksikan kedatangan Canis Major, atau anjing pemburu yang berburu diatas air sungai perak. Canis Major melewati kampung rorota setiap akhir bulan, dan menurut mitos yang beredar di kampung Rorota, Canis Major itu adalah portal waktu yang menghubungkan antar rasi bintang, bahkan bisa sampai ke bumi. Namun, satu hal yang paling ditungggu-tunggu oleh anak-anak kampung Rorota di hulu sungai Eridanus adalah, bulu dari Canis Major yang kabarnya dapat mendatangkan keberuntungan.

Hari makin larut, namun hulu sungai semakin ramai oleh kedatangan warga-warga Rorota yang ingin juga menyaksikan kedatangan Canis Major dan melihatnya langsung melintasi sungai. Deron masih duduk dibatu yang sama, persis disampingnya sungai berwarna perak mengalir. Hawa dingin kian merasupi tubuhnya, dia melipat kedua tangannya kedalam jaket, sayap mungil dipundaknya berkibas perlahan, ada pertanda, nyanyian dari gadis-gadis didahan pohon semakin terdengar pelan, dan lama-lama berhenti. Ada bisik-bisik dari kerumunan warga yang datang, sampai akhirnya hening mencekam, Daron memandang keseluruh cahaya yang berjajar dihulu sungai, semua orang tertuju pada satu sinar emas mendekati mereka dari kejauhan, hening, Canis Major tiba.

Deron mempersiapkan dirinya, kali ini dia tidak akan gagal mendapatkan sehelai bulu dari Canis Major, sayapnya terkembang, membawanya sedikit terangkat dari batu tempat dia duduk, matanya fokus pada Canis Major yang masih terlihat titk emas yang kian lama kian jelas. Hentakkan kaki canis major seperti suara sepatu kuda, begitu cepat terdengar menderu-deru berkecipakkan diatas sungai, Canis Major semakin jelas terlihat mata, bentuknya seperti unicorn namun lebih kecil, moncongnya seperti anjing namun, di bagian belakang ekornya ada rambut yang bersinar, berkelap kelip, itu yang ditunggu, rambut keberuntungan, terhempas angin-angin, melambai seperti tak bertulang. Ada ketakutan yang mencekam ketika Canis Major kian mendekat, meraung terdengar keras dan memekakkan telinga, memecah air sungai Eridanus yang perak. Deron bersiap-siap, sayap munglinya, mengepak keras membelah udara, dia akan nekat menyergap buntut belakang Canis Major, semakin mendekat, semua mata terkesima menyaksikan keagungan Canis Major yang membuat kulit mereka dingin, mereka ketakutan sekaligus terkesima menyaksikan pemandangan yang hanya bisa mereka lihat sebulan sekali itu.

Seperti sinar meteor yang meluncur membelah galaxy, Canis Major berlalu diantara gemercik air sungai Eridanus, sekelibat, dan Deron menghilang.

****
Foto by google

Deron berteriak, semangat, hingga urat dikedua lehernya terllihat jelas, dia terhempas seperti melesat bersama meteor, terbang secepat kilat di langit. Bergelayutan diantara bulu-bulu Canis Major. Matanya tak dapat melihat dengan jelas karena cahaya diantara bulu-bulu yang gemerlapan, dia masih terus berteriak WOHOOOOOO!!!! YEAAY!!! AKU DAPAT!!!!!
Ikut melesat diatas sungai  Eridanus yang menuju ke arah utara, kedua tangannya memeluk bulu Canis Major, kuat. Tidak sampai sepersekian detik, Deron merasakan ada yang aneh, udara kian menipis, dan dingin terasa menusuk tubuhnya berlipat ganda, Canis Major menghentikan langkahnya, menepi dari sungai Eridanus, melompat keatas pohon-pohon, mencapai puncak pohon, dan melonglong, memecah kesunyian sepertiga malam yang semu dari sinar rembulan dan guratan meteor yang berkelibatan di angkasa. Deron tersadar, sontak kaget bahwa dia menemukan dirinya masih dipunggung Canis Major, kikuk, dan panik menjadi satu, namun dengan cepat kali ini dia mengepakkan sayapnya, setelah menarik sehelai bulu dari buntut Canis Major yang belum sadar akan keberadaannya.

Deron terbang, menuju kampungnya, Rorota. Luar biasa rasanya dia bisa menunggangi Canis Major yang melegenda itu. Tidak sia-sia dia nekat untuk meluncur kebawah kaki Canis Major ketika membelah sungai Eridanus beberapa jam lalu. Ditangannya menggenggam sehelai bulu Canis Major berwarna perak, masih berkelap kelip namun lemah. Senyum mengembang tak hentinya dari wajah Deron, bergelora rasanya saat dia mengepakkan sayap membelah udara malam yang kian dingin, tak ada satu ketakutan apapun mengikutinya kali ini. Luar biasa, itu yang terus melayang-layang dalam pikirannya, melihat kedalam genggaman tangannya.

Pintu pondok rumah Deron dibukanya perlahan, melangkah diantara bunga-bunga lili yang siap mekar esok pagi, perlahan menapaki batu-batu, hati-hati takut menginjak daun kering atau ranting yang jatuh dari dahan pohon. Matanya tertuju pada kamar paling atas, kamar Mama dan Ayahnya, yang Maha Agung, Betelgeuse, sepertinya mereka semua sudah terlelap tidur.

****

Dua minggu pasca keberhasilan Deron mendapatkan bulu Canis Major, tetap tak ada yang mengetahui hal itu, bakan Ayahnya, Betelgeuse pun tak tahu sama sekali bahwa anaknya yang selama ini ‘sangat’ biasa itu berhasil mendapatkan bulu Canis Major. Dalam hari-harinya, Deron masih terlihat biasa saja, tidak ada perubahan, hanya saja, sekarang dia lebih beruntung dibanding Regol musuh besarnya. Tidak ada lagi ejekkan dari teman-temannya, tidak ada lagi kecelakaan sayapnya tersangkut di ranting pohon ketika lomba terbang setiap sore hari. Sampai pada sore itu, dia bertemu dengan Milika yang baru saja mengumpulkan bunga lili.

Milika: (memandang Deron bersemangat) Entah kenapa sekarang aku lihat kau sedikit berbeda dari yang biasanya. (menatap Deron dari ujung kaki sampai kekepalanya).
Deron: (gugup) apakah itu berarti kau memperhatikan aku Milika? (tidak berani menatap mata Milika yang berwarna hijau muda).
Milika: Selalu, kau yang paling beda diantara yang lain! (duduk di batu sambil memilin rambutnya).

Mulailah sejak saat itu, kehidupan Deron berubah total. Tumbuh keberanian dalan dirinya dan kepercayaan diri yang luar biasa. Meskipun tubuhnya kurus, dan tidak sebanding dengan Regol dalam bertarung, Deron memiliki kemampuan mengendalikan diri yang sangat baik. Bulu Canis Major yang katanya membawa keberuntungan sesungguhnya tidak Deron rasakan sama sekali, tapi dia sadar ada hal-hal kecil yang jadi berbeda. Dia dan Milika sekarang jadi sahabat dekat, kemanapun mereka pergi selalu berdua. Tidak ada lagi ejekkan yang dia dengar, bahkan kesialan yang datang bertubi-tubi semakin berkurang.

Sebulan berlalu setelah Deron berhasil mendapatkan satu helai bulu dari Canis Major, itu berarti akan ada pertemuannya kembali dengan Canis Major di hulu sungai Eridanus. Seperti biasanya, semua warga kampung Rorota kembali berkumpul ingin melihat Canis Major. Malam ini, tidak seperti malam satu bulan lalu saat Deron belum mendapatkan bulu Canis Major. Tiba-tiba saja dia merasa ada sesuatu yang berbeda, dia merasakan dingin yang luar biasa, dia membuka kantung di belakang jaketnya, bulu Canis Major itu kembali menyala terang, berkelap kelip, melebihi sinar yang memancar dari tubuhnya, ada sedikit ketakutan yang menjalar ditubuh Deron, tapi dia bisa menguasai dirinya. Duduk berdampingan dengan Milika didahan rindang diatas sungai Eridanus yang berwarna perak, menanti Canis Major.

Kali ini tidak menunggu lama, kedatangan Canis Major sangat cepat, berbeda sekali dengan bulan lalu, ada angin yang menyertainya, angin yang sangat kencang, setiap orang yang berada disepanjang hulu sungai saling berpegangan, bahkan ada yang memilih untuk kembali kepondok mereka masing-masing. Semakin kencang angin berhembus, Deron berpegangan erat didahan pohon, bersama dengan Milika, ada ketakutan di wajah mereka. Tiba-tiba saja, saat bersamaan seperti kilat yang lewat, Canis Major melesat, Deron terbawa bersamanya, hilang sekejap mata, Milika sadar bahwa Deron sudah tidak bersamanya, menghilang.

****

Dibelahan langit yang berbeda, cahaya matahari memancar begitu terik, terdengar suara yang sangat bising dari kendaraan yang berlalu lalang, klakson mobil, dan bau asap yang menyengat, Deron membuka mata, menyadarkan diri, melihat kesekililngnya, selamat tinggal Orionid. *****

INDAHNYA ‘MELANTAI’




Malam itu, musik club menghentak seisi ruangan yang gemerlap lampu kerlap kerlip. DJ memainkan piringan hitam, menggesek-geseknya hingga menghasilkan bunyi yang seolah menghipnotis setiap orang yang ada dalam ruangan setengah gelap itu, lampu remang-remang masih bisa sedikit memberikan kesempatan agar mata melihat ada siapa didepan kita sampai jarak pandang hanya dua meter saja. Sounds system yang dahsyat seolah memecah telinga, namun memberikan energy yang lebih kepada tubuh dan tak kuasa aku bergoyang dengan gaya seperti robot yang batrenya sudah mau habis. Mengikuti setiap hentakkan musik, menganggukkan kepala, dan benar-benar lupa dengan dunia, aku menikmatinya. Ku panggil sedikit teriak ke arah Beno yang sedang asik minum tak beberapa jauh dari kerumanan di tengah lantai dansa.
“ACARANYA KAPAN MULAI?” Katakku sedikit berteriak
Beno yang jauh disana sepertinya tidak mendengar pertanyaanku, dia hanya mengangkat kedua alisnya, isyarat bahwa dia mengatakan “APA?”
Aku hendak mendekatinya, namun agak sedikit kesulitan karena kerumunan orang banyak yang sedang berpesta, dilantai dansa, menikmati tiap senti musik yang menggila, campuran musik R&B, pop, bahkan hip hop yang dikemas menjadi house music.
Lagu The Time Of My Life milik Black Eyed Peas di remix dengan lagu Run The World milik Beyonce, kaki masih mengehentakkan lantai dansa sambil melangkah menuju Beno yang masih asik dengan minumannya.
“Acaranya kapan selesai Ben? Gue mau balik aja, udah capek banget.” Kataku setelah berhasil menjangkaunya.
“Ya elah Yo, baru jam 11 kalee.. nanti aja, bentar lagi deh, tadi kan lo gue yang jemput, biar nanti gue yang anter, nanti nyokap lo ngomel-ngomel.”
“Iya, tapi sampe jam berapa? Gue males sampe pagi-pagi, pengen tidur.”
“Ya udah bentar lagi deh, nanti ada fashion show nya juga, tunggu sampe fashion show selesai baru gue anter lo balik, oke, lo gabung aja sama anak-anak disana biar ga bosen!”
Aku sama sekali tidak mengindahkan perkataan Beno, rasanya sudah bosan ikut ‘melantai’ dan ingin keluar dari hingar bingar malam ini. Aku sedikit menjauh mencari tempat yang lebih tenang.
“Lemon teanya satu Mba” pintaku pada bartender perempuan yang sepertinya lebih muda dari ku. Sedikit kaget dia mendengar permintaanku. Mungkin bingung dengan pesanan yang aku minta, bukan minta ‘minuman’ tapi malah lemon tea. Dia menyodorkan gelas seperempat yang dipinggirnya disematkan buah lemon dipotong tipis.
Aku meminumnya sedikit, kemudian membuka ponselku, melihat apakah sudah ada balasan pesan di Blackberry Messenger (bbm) dari Dara, pacarku.
Tidak ada tanda-tanda bbm balasan darinya. Bbm terakhirku yang mengabarkan bahwa aku akan pergi bersama Beno pun belum dia baca, masih dengan simbol D yang berarti hanya Delivered. Sudah hampir tiga jam aku kirim bbm itu, tapi sama sekali tidak digubris olehnya. Agak sedikit kesal, tapi kutahan, akhirnya kuputuskan menelponnya, terpaksa, karena dia sama sekali tidak meresponnya. Bunyi nada tuut, tersambung ke nomer telponnya. Kutunggu beberapa detik, tidak ada jawaban juga. Satu menit, dua menit, tiga menit, berkali-kali aku hubungi teleponnya, tetap tidak ada jawaban. Aku lihat jam tanganku, pukul setengah dua belas malam, mungkin sudah tidur, pikirku. Aku tutup ponselku dan kumasukkan kembali kedalam saku celanaku.
Suara Dj kembali menggema, dia mengumumkan bahwa acara fashion show akan segera dimulai, musik disko diganti dengan suara instrument yang lebih lembut namun tetap memberikan jiwa agar badan ini tidak diam ditempat, kakiku terhentak dilantai, menikmati musik.
Mataku tertuju pada meja panjang yang terletak di tengah ruangan, yang disulap menjadi lantai catwalk. Satu persatu wanita dengan postur tubuh yang tinggi dan proporsional melenggak lenggok di atasnya, memamerkan busana yang mereka pakai. Dari ujung ruangan seorang host dengan pakaian agak ‘mencolok’ berkumat kamit, menyebutkan nama designer yang membuat baju yang sedang diperagakan sang model, aku menikmatinya.
Seperempat jam berlalu, acara fasion show masih berlangsung, sejumlah model masih sibuk mondar mandir diatas catwalk, dan hentakkan musik membius agar semua mata tertuju pada mereka. Aku meneguk cairan lemon tea terakhir dari gelasku, dan seketika tersedak, berlebihan, ketika mata ini menangkap sosok yang tidak asing lagi, Dara, dia sedang berdiri tak beberapa jauh dari arena catwalk, berkumpul bersama kelompok teman-temannya, aku mencoba mengenalinya, satu persatu, hanya satu orang yang aku kenal, yang lainnya tidak. Dengan refleks aku bangun dari kursi plastik satu kaki, hanya satu  tujuan, mendekati Dara, pacarku.
House music kembali di putar, dan setiap orang yang aku temui di lantai dansa itu semua bergoyang menikmatinya, menyatu bersama malam, dibuai oleh sounds system yang menggema-gema ditelinga. Beberapa langkah lagi aku sampai ke tempat Dara berdiri bersama teman-temannya, aku yakin dia tidak sadar bahwa aku ada disini.
“Sorry,”
Seseorang mendahului langkahku, sedikit menyingkirkanku yang hanya berjarak beberapa centi dari Dara, tubunya mungkin beberapa inchie lebih tinggi dari badanku, dan beratnya mungkin sekitar 10 atau 20 kilo lebih berat dari badanku, aku menghentikan langkah kakiku, memandangi Dara dari arah berbalik, mengurungkan niat untuk memanggil namanya.
Orang yang baru saja melewatiku tiba-tiba saja mengalungkan tangannya ke tubuh Dara, mesra, mereka berdua saling pandang, menikmati alunan musik yang masih dimainkan sang DJ. Dara terlihat sangat bahagia berada didekapan lelaki itu, aku mengamatinya dari sini, hanya beberapa centi darinya, musik DJ menghempaskan pikiranku.
Tangan ini berkeringat, hati luar biasa kejar-kejaran dengan suara musik yang dicampur aduk dipermainkan oleh disk jokey. Aku membalikkan tubuh membuang jauh niat untuk menemui Dara. Seketika ruangan menjadi panas, seperti ada tungku api yang dibuka lebar-lebar, seperti matahari yang membakar. Pantas saja dia sama sekali tidak menggubris bbmku dari sore tadi, bahkan telponku tak diangkatnya. Rasa kesal bercampur aduk, di mix seperti musik yang sedang diputar oleh DJ, aku melayang, seperti melambung kelangit ketujuh, kemudian terjatuh kembali kebumi, terhempas, hancur berkeping-keping. Membalikkan badan keluar dari lantai dansa. Para model masih saja melenggak lenggok di atas catwalk, dan sebagian orang menari tak tentu dilantai dansa, berpasangan, sendiri, atau bersama-sama dengan teman mereka, aku keluar dari kerumunan itu, keluar dari hiruk pikuk itu, menjauh dari manusia-manusia yang ‘melantai’.
Ubun-ubunku panas, pikiranku menerawang, pergi melewati lorong waktu melalui pintu kenangan, saat tiga bulan lalu...
***
Kita sama-sama janji bahwa kita akan saling menjaga hati. Kita sama-sama janji bahwa kita tidak akan saling menyakiti, kita sama-sama menghargai untuk saling mengasihi, dan kita sama-sama mengetahui bahwa kita tahu apa yang belum diketahui, dengan kepercayaan, aku dan kamu pasti bisa melewati semua ini, hubungan kita, jarak usia kita, latar belakang keluarga kita, kehidupan kamu, kehidupan aku, teman-temanmu, teman-temanku, hobimu, dan hobiku, apa yang tidak aku sukai dan apa yang kamu sukai, kita harus saling menghargai, aku yakin pasti kita bisa melewati ini.
Pembicaraan yang agak serius dilewat tengah malam dari ujung pesawat telpon. Hampir satu minggu Dara menyatakan bahwa dia bersedia menjadi milikku, dengan satu syarat, bahwa kami harus saling menghargai satu sama lain, dan aku menyetujui persyaratan itu. Luar biasa bahagianya kala itu, kuputari hampir lima puluh putaran joging track yang setiap akhir pekan aku lalui, saking bahagianya hati ini karena akhirnya cinta bertepi pada satu hati. Hari demi hari kita lalu bersama meski jarak memisahkan kita, hanya soal kota, dan hanya soal waktu, kita terpisah, awalnya aku menganggap itu hal biasa, sampai akhirnya aku dapati satu hal yang nyata tentang dirinya, bahwa aku bukan satu-satunya dihatinya, ada lelaki lain, yang sedang bersiap-siap menyambut dirinya. Dan dia berkata, membuka hatinya, berusaha, atau mencoba, menerima, dan ternyata itu ada sudah sejak lama.
Awalnya aku kaget, namun dalam hati ini justru malah berfikir nyata, bahwa ini adalah tantangan untuk memperebutkan hatinya, aku akan bersusah payah meski berpeluh resah untuk memenangkan hatinya. Selama berminggu-minggu selalu mendengar ceritanya, semua biasa saja, tidak ada yang berubah, hanya soal rasa, lambat laun akan terbiasa. Terkadang disela-sela bicara juga aku selipkan canda soal hubungannya dengan dia disana yang menang telak satu kosong karena mereka lebih dekat soal jarak dibanding aku, aku abaikan hal itu.
****
Kaget, Beno menepuk pungggungku dari belakang.
“Woy! Gue cariin didalem pantes aja gak ada, ngapain lo disini? Ayo buruan masuk, bentar lagi beres kok, baru abis itu gue anter lo balik, eh didalem ada Dara tuh, udah ketemu belom?” Beno merangkulku dan memaksaku untuk masuk lagi kedalam club, aku menurutinya, meski lemas sepertinya sekujur tubuh ini, mual kalau harus membayangkan bertemu dengan Dara, mengenalkanku dengan teman-temannya, dan, kekasihnya.
*****
Sakit rasanya jadi yang kedua,
Awalnya memang aku menerima bahwa itu hal biasa,
Sekali lagi aku katakan kalau itu hanya soal rasa,
Nanti juga pasti akan terbiasa,
Bulan ditarik ketanah, dan air laut di lempar keudara,
Tidak mungkin,
Kenyataan yang aku dapati adalah bahwa aku tidak bisa terima,
Mual adalah ketika kita lihat dia sedang berdua dengan orang yang dicinta,
Dan cemburu membabi buta namun apa hak kita?
Ingin ku caci ku maki kulukai, tapi tak sampai hati,
Sekali lagi ini hanya soal rasa,
Aku harap akan terbiasa,
Menggila karena tahu akhirnya akan terluka,
Duniawi ketika rasa cemburu membuat luka,
Namun ini soal rasa,
Semoga akhirnya akan terbiasa.










Melawai, 18 Oktober 2011, 22:00 pm

KISAH TIGA BABAK



 BABAK PERTAMA
Saat itu aku sendiri sedang mencari-cari, sebuah nama secara acak di facebook. Aku hanya iseng karena semua pekerjaan sudah selesai aku kerjakan. Dipojok kanan atas ada tulisan “people you may know” , orang yang mungkin kamu kenal, lalu aku klik all, dan keluarlah sebuah halaman berjajar sederet memanjang kebawah dengan berbagai macam nama dan foto-foto diri yang menyortkan muka-muka segala rupa, aku lihat satu persatu tanpa mengklik link tautannya, sehingga tidak usah masuk ke halaman profil mereka, dari sekian deret nama-nama, akhirnya aku tertuju pada sebuah foto dideretan paling bawah, Rio Siantury, entah kenapa pandanganku langsung tertuju kepada orang itu, aku juga tidak berfikir jauh, hanya ketertarikan sesaat, dan yang pasti sore itu, Cuma iseng karena sudah tidak ada pekerjaan lagi yang harus aku kerjakan, langsung aku klik nama itu, dan masuklah aku kehalaman profilnya.
Ternyata halaman profilnya tidak di setting ‘terbatas’ semua bisa aku buka, mulai dari info tentang dirinya yang berisi dari keterangan dimana dia bekerja, dimana dia sekolah, tempat tanggal lahhirnya, bahkan sampai hobinya, aku tahu sepintas lalu, dan kemudian aku klik link berikutnya, arsip foto, aku klik folder foto-fotonya, satu persatu, aku lihat semua folder, entah kenapa mata ini seakan-akan mendapatkan kesenangan melihat foto-fotonya, orang asing yang sama sekali aku tidak kenal, dan aneh sekali, setelah melihat isi foto-fotonya aku merasakan kedekatan yang teramat intim, bukannya aku berlebihan, tapi kenyataannya memang benar, aku rasakan itu sendiri, hatiku punya nurani yang percaya diri dan mengatakan bahwa aku ingin kenal dia lebih jauh!
Kembali kehalaman profil utama Rio, dan secara reflect tangan ini menekan option pilihan add friend. Klik!! Lalu aku kembali kehalaman home acount ku sendiri, membaca-baca news feeds yang isinya kumpulan status-status berceloteh, mulai dari tausyah dari ustad kondang, update status motivasi dari motivator terkenal, sampai dengan update-update status yang aku rasa ‘nggak penting ya” yang seharusnya nggak perlu dishare kok ya malah dishare, pikirku dalam hati hanya sepintas lalu. Bukan hanya update status saja, banyak juga foto-foto yang dishare, gaya narsis, gaya unyu, lagi hang out, lagi sama pacar, segala mace gaya sering banget muncul di news feed itu. Bosen aku scrol mouse kebawah, semuanya rata-rata sama, lalu aku buka kolom chat, dan keluar lagi sederet nama-nama mereka yang sedang online dan sudah offline, pembedanya hanya ada warna hijau untuk yang online, semua nama yang biasa aku temui, bosan untuk membuka chat dengan mereka.
Bosan sekali menunggu jam pulang kerja, begini rasanya kalau sedang bebas pekerjaan karena sudah selesai lebih awal, seperti ‘nanggung’, soalnya kalaupun aku keluar kantor belum bisa, belum waktunya, didalam kantor sinipun aku sudah sangat bosan, ya kurang dan lebih seperti inilah nasib jomblo (apa hubungannya ya?). aku tinggalkan monitorku beranjak ke pentry untuk membuat secangkir kopi. Tidak berapa lama aku kembali, lalu aku bula lagi halaman facebookku, dan ada warna merah pada bagian notification, aku klik, dan.. ceritapun dimulai.

BABAK KEDUA
“Hah?? Seriusan lo Del??” Meta teman kantorku terkejut saat makan siang dikantin teratai siang itu.
Aku mengangguk, mengeluarkan smartphoneku yang dibungkus karet berbentuk kepala kelinci..
“Ini dia, namanya Rio, sudah hampir sebulan sih kita kenal, dan, kita jadian..”
“Arrgghh.. kok lo bwuaruw cwerita sewkarangw sih?” Meta berbicara nggak jelas karena sambil mengunyah ketoprak pesanannya.
Aku sama sekali nggak jawab pertanyaan dia yang satu itu, hanya senyum dan melanjutkan makan siang kami.
***
“Hallo.. kamu kamu kamu lagi apa? Masih sibukkan? Kok bbm aku gak dibales sih?”
“Aku lagi taping buat besok Del, kan kalo Jum’at kerjaanku double, soalnya kan weekend libur” suaranya persis seperti penyiar radio favorite ku yang siaran tiap sore.
“Iya aku tau, waktu itu kamu pernah cerita Ri, oya, paket kirimanku uda sampe belum? Itu loh yang waktu kamu minta.”
“Jeans hitam dan kaos coklat yang kamu beli dari butik teman kamu kan?”
“Iya iya betul.. heheh asiik sudah sampe kan?”
“Iya sayang, udah sampe kok, nih jeansnya uda aku pake, makasi yaa Adelia sayang..”
“Iya Bolang jelek, seneng deh kalo denger kamu seneng, ya udah kamu lanjutin lagi kerjanya ya, aku sih udah siap-siap mau pulang, nanti kabarin lagi ya Ri.”
“Oke sayangku, kamu ati-ati yaa.”
Begitu setiap hari, semua rasanya sempurna, hari-hariku bersama Rio terasa lengkap, meskipun kita berdua menjalani hubungan dibatas jarak, tapi aku percaya itu tidak akan pernah menjadi masalah, karena aku bahagia bersamanya, dan dia juga sama, bahagia bersamaku.
***
Hampir dua bulan aku menjalani hubungan jarak jauh dengan Rio, semuanya terasa sangat baik, pekerjaanku meningkat maju karena semangat yang ditularkan oleh Rio kepadaku setiap saat, dia mengajarkan banyak hal tentang semangat, aku ingat, jumat akhir pekan lalu saat lelah stress karena pekerjaan ini menumpuk, didalam bis aku menelponnya, suaranya sedikit kecil karena derung kendaraan yang terdengar mendominasi, ditambah lagi tiba-tiba sekelompok pengamen masuk kedalam bus dan menyanyikan lagu-lagu yang tidak aku tahu itu lagu apa. Rio mengatakan padaku:
“Kamu tutup telpon aku, terus kamu dengerin deh itu pengamennya yang lagi nyanyi, anggap aja kamu lagi nonton akustikan di cafe, kan tadi kamu capek kerja kan, jadi anggap aja hiburan kamu setelah kerja, aku kan jauh, ga bisa ajak kamu sekarang juga, oke sayang..” aku tersenyum, dan langsung menikmati kelompok pengamen didepanku yang sedang asik bernyanyi.
***
“Jadi, kamu beneran mau ke Jakarta?”
“Iya, aku ke Jakarta Jum’at ini, nanti kita ketemu ya, jadi ada teman aku yang ngurus event disana, sekalian deh aku ikutan, sekalian bisa ketemu kamu sayang..”
“Asik, gak sabar nunggu Jum’at”
“Sabar dong..”
Dari Senin ke Jum’at aku tunggu rasanya lama sekali, tapi akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Rio akhirnya datang ke Jakarta. Jum’at pagi pesawatnya tiba di Bandara Soekarno Hatta, dia menelponku mengabari kalau dia sudah tiba, kebetulan hari itu aku harus handle gathering media dan nggak bisa izin untuk menjemputnya, Rio memberikan alamat tempat dia menginap bersama teman-temannya, di sekitar Tebet Utara. Semua pekerjaan aku rapihkan secepat mungkin, aku memang sedang di kantor, sibuk dengan mengatur segala macam schedule acara, tapi hati dan jiwa ini sudah tidak ada disni, sudah ingin segera menemui orang tercinta yang selama dua bulan seslalu setia menemani. Ingin segera berlari dan memeluknya, sekedar mengucapkan selamat datang, dan ingin mencium harum tubunya yang tidak pernah aku rasakan, waktu, aku mohon cepatlah berlalu, aku ingin segera besamanya, kasmaran memang membuat gila.
***
Pertemuan pertama akhirnya tiba, sebuah makan malam yang sederhana di sky dining, plaza Semanggi, Bricks Caffe, tepat dipinggir, dari sini bisa terlihat pemandangan jalan Sudirman dan Gatot Subroto yang melingkar. Aku, bersamanya, berdua diterangi lilin-lilin kecil yang menyala, sungguh, aku tidak berpura-pura, ini adalah bahagia, aku bersama dia, tatap muka, berbicara, dan aku suka, bahkan lebih, aku cinta!
Saat hari ketiga, dia meninggalkan Jakarta, aku tidak siap melepaskan dia, dan kita kembali pada realita bahwa cinta kita terbatas oleh jarak. Tapi aku meyakinkan hati bahwa ini hanya sementara. Ada air mata yang mengiringi saat dia menuju Bandara, dan lagi-lagi aku tidak bisa, bersama dia, mengantarkan dia pergi dari Jakarta.
“Aku pasti kembali Del, segera, kita pasti bertemu lagi, kamu ga boleh nangis...”
Itu pesan terakhir sebelum dia take off.

BABAK KETIGA
Aku menghitung, bulan ke empat masuk dari hubungan kita, sedikit aku rasakan menurun tidak seprti bulan-bulan lalu. Aku begitu sibuk dengan pekerjaanku, dan dia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku dikejar deadline, dia pun sama dikejar deadline. Hanya ada late night conversation, itupun ada kalau dia tidak ada event sampai tengah malam.
Setiap hari, aku menunggunya, wake up call, bbm selamat makan siang, pengingat meeting setiap hari Senin, atau aku ingatkan dia untuk minum air putih karena dia jarang sekali minum air putih. Semuanya aku rasakan menurun, kalau aku grafik kan hubungan bulan k empat ini, seperti sedang berada dititik terendah.
Aku harus menunggunya setelah dia selesai bekerja, event tambahannya sepulang kerja juga menyibukkannya, lewat tengah malam baru ada kita.
“Aku sudah beli tiket untuk ke Bali Jelek, nanti kamu jemput ya, sesuai rencana kita, pokoknya kamu antar aku keliling Bali, jangan sampai ada yang terlewatkan.”
“Iya iya, nanti aku jemput.”
“Kamu kangen nggak sih?”
“Kangenlah”
“Aku bingung, kamu dari senin sampe Jum’at sibuk kerja di radio kamu itu, terus Sabtu sama Minggu ada side job kamu bareng temen-temen kamu, kapan punya waktunya buat aku ya?”
“Lho, kok ngomong gitu, ini kan kita lagi sama-sama, aku telpon kamu.”
“Iya tapi kamu lebih banyak nggak ada waktunya.”
“Aku sibuk kan bukan untuk main-main del, aku sibuk karena aku kerja, cari tambahan sampingan.”
***
Menginjak bulan kelima, komunikasi kami benar-benar terhitung, seminggu hanya beberapa kali dia menelpon. Sampai akhirnya, pada Jum’at pagi aku mendapati bbm darinya:
“Sepertinya kita harus berfikir ulang tentang hubungan kita..”
Aku gusar, aku geisah, pikiran ini tidak tentu, yang aku takutkan selama ini seperti benar-benar akan terjadi. Sampai akhirnya semua cerita jelas. Aku langsung menelponnya, menanyakan ada apa, dan semuanya jelas.
Ternyata selama ini, beberapa waktu belakang ini, dia yang biasanya selalu ada dalam setiap waktuku, suaranya yang menjadi penghantar tidurku, tidak ada kabarnya setiap saat, begitu terasa menghiang tiba-tiba. Dan dia jujur bercerita, saat ini, dia sedang membuka cintanya yang baru, membangun sebuah rencana yang lebih dari sekedar hubungan antara aku dan dia, dia membuka mata tentang jarak cinta yang ada antara aku dengan dia, dia tidak bisa ada lagi untukku, tidak bisa lagi menghabiskan detik terindah denganku, tidak akan memberikan waktunya lagi untukku, aku dimintanya untuk mencari yang lebih baik darinya, karena aku lebih baik tanpa dia, itu ucapnya. Entah mimpi apa aku semalam, habis cerita tentang kita, kuremas tiket pesawat penerbangan ke Denpasar yang hanya tinggal menghitung hari, aku merasa tidak terima, tapi inilah yang sebetulnya nyata, dia sudah tak punya cinta, dan untuk apa aku meminta. Dia yang terindah, dia yang aku lihat sempurna untukku, ternyata salah, aku yang salah atau siapa yang salah? Aku tidak bisa melepasnya.
****

Singing Loud: Ecoutez - Sakit

MARRIAGE AND THE RAIN




Langit sore yang cerah, sepenggal mataharinya masih tertutup gumpalan awan yang bermain dilautan angkasa. Aku dan Bimo, memasuki rumah bergaya klasik yang terletak di Selatan Jakarta. Memasuki rumah itu sudah terasa suasananya yang berbeda, iringan musik gamelan yang disusul dengan tiupan seruling bambu, benar-benar gemetar aku melangkah menginjak lantai demi lantainya. Disetiap sudut ruangan dipasang foto-foto pernikahan dengan berbagai macam model. Ada etalase-etalase yang memamerkan gaun pengantin dan pakaian-pakaian pelengkapnya. Aku menggenggam lengan Bimo erat, Bimo senyum kepadaku. Tak berapa lama kami sampai di lantai dua dari bangunan bercat tembok merah marun itu, sesorang sudah siap berdiri menyambut kami.
“Wah, calon pengantinnya sudah datang, ayo sini mari, pesanan gaun pengatin kalian sudah masuk tahap akhir, tinggal finishing saja, Rena biar sama Ibu, kamu Bimo ikut dengan Mas Giring diruangan pria sana ya nduk, biar Rena Ibu bawa dulu untuk cicipi baju pengantinnya, nanti kalau sudah siap Ibu panggil.” Panjang lebar wanita paruh baya itu menjelaskan. Ibu Anggoro namanya, dia adalah designer ternama di Jakarta, khusus untuk pakaian pernikahan. Aku mengikutinya dari belakang, menuju ruangan yang agak lebar.
“Sini nduk, ini tho baju pengantin yang bakal kamu pakai nanti pas resepsinya, coba sini-sini kamu lihat dulu, sekalian kamu cobain, biar Ibu bisa lihat pas apa ndak dibadanmu.”
Aku menurutinya, melepaskan pakaian yang kupakai dan menggantinya dengan pakaian pengantin. Sebetulnya hanya sebuah kebaya ‘impianku’ terbuat dari beludru berwarna perak dan emas, terlihat begitu elegan potongannya, setiap detail jahitannya, aku memandangi indah tubuh ini bergelut busana pengantin ‘impianku’, keluar dari dalam ruangan, dan menampakkan diri didepan Bu Anggoro, sambil tertunduk malu-malu, mataku tertuju pada cermin yang terpasang disudut ruangan, cermin besar yang menangkap keseluruhan bentuk tubuhku yang terbungkus kebaya panjang berwarna perak.
“Owalah ayu tenan anakku wedok.. Pas tenan klambi manten iki kanggo kowe nak..” ucap Bu Anggoro begitu bersemangat. Kemudian dia merapikan keseluruhan pakaian yang aku kenakan, melipat bagian-bagian yang sengaja ia tandai untuk diperbaiki disetiap sudut yang melekat dibadanku. Sampai pada bagian pundak bu Anggoro menyingkap potongan jahitan baju kebaya dan,
“Aduh, bu jangan keras-keras pegang tanganku.” Aku menyeringis kesakitan, menghindari tangan bu Anggoro yang baru saja memegang bahu lengan kananku. Penasaran sepertinya, bu Anggoro meraba luka memar di bahu lengan kananku, memandangiku dengan tatapan iba, dia memaksaku untuk bercerita…
***
Café Victoria, aku menunggu Bimo menjemputku yang baru saja mengikuti acara press conference dan media screening film The Smurf. Sambil menunggunya aku sedikit membuat review untuk dikirim ke editorku terkait film yang baru saja aku tonton bersama teman-teman pers lainnya. Dua jam berlalu, kulihat arloji kulit yang melekat dilengan kananku, pukul sepuluh malam. Harusnya sejak dua jam lalu Bimo menjemputku, tapi sampai sekarang aku tak melihatnya tiba disini. Review tulisan sudah selesai sejak tadi, tak hentinya aku kirim Bimo pesan sngkat sms, dan kuhubungi kenomor ponselnya, tetap tidak ada jawaban, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan taxi.
Pukul satu malam, mata ini tak kuasa membuka kelopak mata, kantuk merajai tubuh, namun ketukkan pintu kamar kostku berkali-kali membuatku tidak nyaman, akupun terpaksa bangun dan melihat siapa yang datang pagi-pagi buta begini.
Bimo, aku lihat dia gusar diluar saat aku intip dia dari balik gorden tipis yang menutup jendela kamar. Aku menguncir rambut panjangku, lalu merapikan baju tidurku. Ada apa dia datang hampir pagi begini. Kubuka pintu, tanpa sepatah katapun, Bimo yang sangat aneh tampangnya saat itu langsung menerobos masuk kedalam kamar kostku.
“Bagus ya, aku jemput kamu ke Victoria dan kamu sudah pulang? Kemana kamu?”
Aku kaget, bukannya pertanyaan ‘kemana kamu’ itu seharusnya aku yang berhak menanyakannya? Ada yang salah dengan Bimo malam ini, selalu seperti ini.
“Lho, aku hubungin kamu Bim, dua jam aku tunggu di Victoria, kamu ga ada kabar sama sekali, ya aku langsung pulang, ngapaian aku nunggu kamu yang ga ada kabarnya.” Aku membela diri.
Bimo tak mau kalah, bicaranya semakin keras, dan ada ketakutan menjalar disekujur tubuhku, terulang lagi. Dan keributan karena hal kecil dimalam setengah pagi itu kembali pecah. Amarah Bimo memuncak lagi, dan sepertinya dengan sadar memukul keras kebagian bahu kananku setelah dia menamparku dengan sangat keras. Aku berusaha melawan, namun semakin aku melawan, Bimo semakin terlihat buas, pukulannya tak henti-hentinya ketubuhku, dia memecahkan segala benda yang ada didekatnya, melemparkannya kepadaku, aku menghindar sebisaku, rambut panjangku habis dijambak olehnya, aku tak kuasa melawan, hanya pasrah, amarah Bimo menggila, sampai dia menuduhku bahwa teman kerjaku yang mengantakanku pulang kesini, teman kerjaku yang selalu dia cemburui dan dijadikannya alasan untuk terus memukulku.
“Kamu diantar Arya kan pulang kesini? Ngapain aja tuh si brengsek kesini? Gak kapok dia berurusan sama gue!”
Percuma aku menjelaskan panjang lebar, aku hanya bisa diam menangis, kesakitan. Ingin rasanya melawan, tapi rasa sayang ku ke Bimo melebihi segalanya, dan aku tahu pada akhirnya pasti akan percuma karena dia yang lebih kuat, biar saja aku yang mengalah.
Aku masih terisak, menahan rasa sakit bekas pukulan Bimo, kutengok jam dinding dikamar kostku, pukul dua pagi. Bimo duduk di ujung ruangan, di sofa sudut yang menempel pada tembok, aku terus memandanginya, ada wajah penyesalan dari sudut sana. Masih tak beranjak, duduk dilantai memeluk kedua kakiku, menahan sakit pada punggung, dan menahan sakit dalam hati karena selalu dituduh selingkuh. Bimo bangun dari sofa, mendekatiku, ada air mata yang menetes dikuda belah matanya, dia memelukku, sangat erat, penyesalan datang, terlambat!
“Maaf…”
Kata itu keluar dari mulutnya yang beberapa saat lalu mencaciku, aku tak menjawab, mengabaikan, diam lebih baik ketimbang aku berbicara tapi sia-sia, tidak akan menyembuhkan rasa sakit dibadan dan hatiku. Bimo tahu betul apa yang dia lakukan padaku, tapi masih saja berlaku seperti itu, berkali-kali. Kata maaf seolah bisa membayar semua yang telah dia lakukan kepadaku. Dan gilanya, hanya dalam hitungan menit, aku bangkit, mengalah, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun, bersikap biasa, mencoba tegar, dan berfikir bahwa Bimo satu saat pasti akan berubah, semoga saja.
***
Delapan tahun, hubunganku dengan Bimo berjalan, seperti naik turun bukit, aku yang dengan tulus mencintai dia, menerima segala kekurangannya, sikap kasarnya kuanggap sebagai simbol dari kasih sayangnya kepadaku, sedikit gila memang, aku yang teraniaya memandang hal tersebut adalah ungkapan sayangnya terhadapku. Dan aku menangis dipundak Ibu Anggoro yang sudah sangat aku anggap sebagai Ibu angkatku. Dia mengelus rambutku perlahan penuh kasih sayang. Tidak banyak dia berkomentar soal hubunganku dengan Bimo. Bu Anggoro hanya mengatakan, cinta bukan berarti menyakiti, cinta itu saling berbagi kebahagian, kalaupun sedih dan sakit, itu harus dibagi bersama, bukan ditelan sendiri-sendiri.
Aku memikirkan kembali kalimat terakhir bu Anggoro kepadaku, memikirkannya berhari-hari, berminggu-minggu, hingga sampailah pada akhirnya hari yang ditunggu-ditunggu, hari pernikahanku dengan Bimo.
Gaun pengantin, kebaya dengan jahitan benang emas dan perak membalut tubuhku yang aku lihat sendiri begitu sempurna, hiasan diwajahku, sanggul, bunga-bunga melati yang melingkar dikepalaku, dan kain batik yang melingkar dibawah kebayaku, semua sempurna, Bu Anggoro menyulapku bak ratu kraton Solo yang baru keluar dari peraduannya dikala purnama bersinar, luar biasa. Aku mengepalkan rangkaian bunga dikedua tanganku, menuju pelaminan dimana aku dan Bimo akan bersaksi akan terikat dalam satu ikatan tali pernikahan.
Seharusnya ini adalah hari yang paling luar biasa untukku, semua orang berdoa untukku, bersuka cita menyambutku, dan bergembira menyertainya. Aku, tertutup kabut abu-abu, gamang menguasai pikiran dan alam bawah sadarku, bahagia dan sisa sisa luka jalan beriringan. Alunan musik gamelan dan seruling bambu menggema sepanjang aku melangkah menuju Bimo yang ketika itu aku lihat begitu tampan. Aku memang sangat mencintainya, dia sempurna untukku, begitupun sebaliknya.
Setiap langkah menuju pelaminan, aku gemetar, hati ini takut sekaligus cemas, perkataan Bu Anggoro waktu itu kembali berputar-putar mengitari pikiranku, terus berulang-ulang, cinta bukan berarti menyakiti, cinta itu saling berbagi kebahagian, kalaupun sedih dan sakit, itu harus dibagi bersama, bukan ditelan sendiri-sendiri.
Aku bingung memulainya dari mana, ketika pertanyaan apakah aku siap menemani Bimo dalam suka dan duka, menjadi istrinya dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan, aku menunduk, memikirkan setiap kejadian yang telah aku lalui selama delapan tahun bersama Bimo, aku terhenti dalam putaran waktu yang menarikku diantara persimpangan buntu, aku mendengarkan hati dalam diam, mendengarkan suara apa yang paling terdengar, sontak kembali kedepan Bimo yang dengan sadar menyentakkan lengannya dengan keras kepinggangku, memintaku menjawab pertanyaan sang penghulu, dan, seketika, aku menggelengkan kepalaku, menatap Bimo dalam diam, hujan turun bersamaan, aku berlari meninggalkan pelaminan, semoga akan ada bahagia setelah cinta ini aku tinggalkan…

****

DRAMA LIMA TAHUN




Usiaku lima tahun kala itu. Berpakaian lengkap dengan baju lengan panjang, jeans beludru, dibalut mantel kulit buatan lokal, tidak lupa topi kupluk abu-abu pemberian eyang sebelum beliau meninggal. Sore itu langit sangat bersahabat, berupa baik dengan gumpalan awan-awan yang menyerupai kura-kura, jerapah, gajah, bahkan aku bisa membayangkan ada yang bentuknya mirip dengan robot robocop yang sudah rusak. Aku bermain kubik di latar depan rumahku. Tidak henti-hentinya kening ini berkerut, karena berfikir keras ingin membangun apa dari potongan-potongan kubik itu. Setengah jadi bangunan tinggi, seukuran tubuh kecilku yang tidak sampai satu meter. Kemudian aku loncat kegirangan, karena melihat hasil karyaku selesai. Dan tidak terhitung beberapa menit aku senang, tiba-tiba saja pria yang tubuhnya lebih tinggi datang menghampiriku kemudian menendang bangunan balok yang sudah susah payah aku bangun. Dia tertawa liar melihat kubikku berhamparan, aku melepas kupluk abu-abuku, mendekap kedadaku, ketakutan, lalu menangis, menangis keras, takut karena orang itu malah semakin tertawa kencang. Aku juga menangis semakin kencang, orang itu meledekku, semakin mentertawakan ku, lalu dia mendorongku kebelakang, sampai aku jatuh terduduk, tangisku makin keras, terisak-isak, menutup mataku dengan kupluk, dia masih berdiri mentertawakanku. Pintu pagar berderit cepat, dan aku mendengar suara langkah kaki yang berlari semakin mendekatiku, aku tidak berani menatapnya, masih menutupi mataku dengan kupluk sambil terisak, tersedu. Sampai aku sadar, merasakan tubuhku terangkat, aku buka kuplukku dan kulihat tatapan mata coklat dengan garis keriput dibawahnya, dia memelukku.. Ayah... aku balas memeluknya. Aku dalam pelukan Ayah, ku dengar lelaki yang tadi merobohkan bangunan kubikku diusir oleh Ayahku, Ayah seperti marah besar, lalu dia kembali menurunkanku setelah menutup pintu kayu yang berderit. Aku masih terseguk, mengelap sisa-sisa air mata, mukaku memerah saat itu, aku ingat betul, Ayah senyum kepadaku, memelukku lagi, membenarkan kerah bajuku, memakaikan kupluk kekepalaku lagi, lalu, mengumpulkan potongan-potongan kubik yang berserakan. Kemudian Ayah mengajakku membangun kembali kubikku menjadi bangunan kesukaanku, aku kembali tertawa riang, satu persatu kubik kami susun, sampai menjadi bangunan tinggi. Tiba-tiba saja, arak-arak gajah, jerapah, dan robot robocop yang berterbangan di awan berubah warnanya menjadi gelap, seketika hujan turun. Ayah dengan sigapnya menggendongku, menarik tas kerjanya yang dia lupakan, dan membawaku berlari keberanda rumah kami yang sederhana. Hujan turun, aku dan Ayah tersenyum melihat bangunan kubik kami tersiram air hujan dihalaman, jariku gemetar sedikit kedinginan, mantelku juga basah, sadar akan hal itu Ayah langsung membawaku masuk kedalam rumah.

***
Malam berlalu, Ayah menina bobokanku diatas kasurku yang tebal berselimut lapis tiga. Diluar masih hujan, sangat deras. Setelah membuatkanku cokelat panas, Ayah membacakan cerita dari negeri pinokio, aku sangat suka cerita itu, berkali-kali diulang tapi tidak penah bosan, lucu membayangkan jika kita bohong, maka hidung kita akan memanjang, kadang aku dan Ayah tertawa bersama ketika Pinokio terpaksa berbohong dengan Ayahnya yang menciptakan dia. Lampu kamar dipadamkan setelah Ayah melihatku tertidur pulas. Kemudian ia keluar dan meninggalkan kamarku. Tapi satu waktu juga aku mendapati Ayah tertidur disebelah kasurku, duduk disampingku diatas kursinya tempat ia bercerita, aku yang terbangun sesekali berbagi selimut dengannya, memandang wajahnya yang kelelahan.
Malam itu aku sepertinya aku tidak bisa tidur pulas, terbangun disepertiga malam, lalu masih dengan pijama kotak-kotak aku turun dari kasur, ingin menemui Ayahku di kamarnya. Bunyi pintu ku berdecit pelan saat aku membukanya, perlahan aku melangkah, aku melihat lampu ruang tengah dibawah masi menyala, berarti masih ada Ayah disana, mungkin sedang nonton TV pikirku. Lalu aku menuruni anak tangga, sama-samar mulai aku dengar suara-suara, suara yang sudah lama tak kudengar dirumah ini, aku lupa berapa lama saat itu. Ibu, aku mendengar suaranya, tapi kali ini dengan nada suara yang aku tidak mengerti, semakin pelan aku langkahkan kaki menuruni anak tangga. Semakin jelas aku dengar suara mereka bercakap, nafasku kutahan, ada sedikit ketakutan yang seketika menjalar dari ujung kakiku yang masih kecil. Aku mengintip dari balik ujung anak tangga, kearah ruang tengah, kudapati Ayah sedang berbicara dengan Ibu, disana, ada orang tuaku, lengkap, tapi aku gemetar, ketakutan. Dan, aku menguping pembicaraan mereka.
“Biar Denis aku yang urus, mana bisa kamu kerja dan bisa fokus mengurusnya, setiap hari aku dengar dia sendiri, kecuali kamu pulang lebih awal dari pekerjaanmu atau bisnismu, atau apalah itu.”
“Denis bahagia bersamaku, jangan paksa aku untuk melepaskannya.”
“Sudah dua tahun kita bercerai, dan kau tidak memberikan aku kesempatan untuk mengurus anakku sendiri? Apa itu adil?”
“Apa? Adil? Kamu membicarakan soal adil disini? Apa adil? Saat aku tugas keluar kota karena pekerjaan tiba-tiba saat kembali kamu meninggalkan Denis sendiri dirumah sementara kamu pergi dengan mantan pacarmu itu? Apa itu adil?”
Aku melihat ibuku tertunduk, lalu menangis, intonasi mereka sangat keras, aku menangis melihatnya, mereka bertengkar didepanku, meributkan hal-hal yang tidak sama sekali aku mengerti. Aku bingung harus bagaimana, dan aku berbalik dari dinding tempat aku mengintip mereka, dengan piyama kotak-kotak yang lengannya kebesaran lebih panjang dari lenganku, aku menangis memandang kedua orang tuaku.
“Denis, kamu, “ suara Ayahku yang pertama aku dengar, dia langsung mendekatiku, memelukku kemudian menggendongku dalam dekapannya, selalu ada kehangatan yang aku rasakan ketika aku dipeluk olehnya, ada ketenangan lebih dari sekedar tenangnya malam-malam tanpa suara jangkrik atau erangan kodok dipematang sawah. Aku menangis, sedih. Memeluk Ayahku erat. Ayah hendak membawaku kembali kekamarku, naik ketangga, namun Ibu menghalangi kami, Ibu menarikku dari pelukan Ayah, mengambilku dari pelukan Ayah, kemudian mencoba memberikan pelukannya untukku, pelukannya yang dingin melebihi hujan sepanjang hari tanpa henti, pelukannya yang kaku seperti gerakan robot robocop ku yang rusak.
“Biar mulai sekarang Denis bersamaku Mas, aku Ibunya, atau, biarkan aku bertanya pada Denis tentang satu pertanyaan.” Ibu mendudukkanku di sofa tua empuk di ruang TV, mereka berdua menatapku, seperti sedang mengadiliku, Ayah dengan mata cokelatnya yang sudah begitu aku kenal, raut wajahnya yang tirus, alis matanya yang tebal, dan senyumannya yang selalu ada kapanpun, namun kali ini pertama kalinya aku lihat tidak ada senyuman itu, seperti tatapan kekhawatiran. Dan Ibu, perempuan dengan rambut tersisir rapih, dan ada warna-warna di bibirnya itu yang mencolok mataku. Ibu seolah-olah sedang menghakimiku karena aku mencuri makanan dari kulkas, aku tidak suka pandangan matanya kepadaku.
Aku menangis dalam keadaan ini, melihat kedua orang tuaku yang seperti sedang menunggu sesuatu hal besar untuk mereka. Ayah aku lihat lebih tenang ketimbang Ibu yang seperti cemas. Kemudian, sampai akhirnya, pertanyaan dari mulut Ibuku terlontar.
“Biar kita tanyakan kepada Denis, supaya kita tahu apa maunya dia, apa yang dia inginkan.” Ucap Ibuku kepada Ayah. Ayah tidak menjawab, Ayah hanya menatapku, mata coklatnya penuh harap, sedikit berkaca. Aku semakin ketakutan, menangis.
“Kamu tidak berhak menanyakan kepada Danis!” kata Ayahku tegas,
“Biar aku mengantarkan dia kekamarnya, ini sudah larut malam.”
“Tidak, jangan dulu, biar aku tanyakan, kamu sama sekali tidak memberikanku kesempatan?”
Aku memejamkan mata dan menutup kedua telingaku dengan sisa piyama yang panjang dilenganku, air mata menetes dan tangisku pecah.
“Denis, dengar Ibu, jawab pertanyaan Ibu, hei Denis, dengarkan Ibu!” Ibu menarik tangaku dari telinga, memaksaku untuk mendengarkannya, mataku masih kututup, tak mau aku melihat wajahnya, aku takut.
“Kamu jawab pertanyaan Ibu, kamu pilih Ayah atau Ibu, jawab dengan jujur, kamu mau tinggal bersama Ayah atau dengan Ibu?”
Aku tidak mengerti pertanyaan macam apa itu? Sama sekali tidak pernah aku pikirkan pertanyaan itu, yang aku tahu aku memiliki dua orang tua yang tinggal terpisah, Ayah meninggalkan Ibu karena Ibu pergi bersama orang asing yang tidak aku kenal, Ayah merawatku sejak usiaku tiga tahun, sampai sekarang sudah lima tahun. Dan sekarang Ibu kembali, membawa pertanyaan tentang aku mau tinggal bersamanya atau tetap dengan Ayahku. Aku menangis sejadinya, kesedihanku saja tidak bisa aku deskripsikan karena apa? Aku masi lima tahun, yang ada dipikiranku, membangun kubik di halaman depan, menjadikannya bangunan tinggi setinggi tubuhku yang tidak sampai satu meter. Lalu melihat awan-awan yang berarak menyerupai gajah, beruang, jerapah, atau robocopku.
****


 _Dance with My Father_

OMBAK OMBAK ULUWATU




Ombak ketika senja itu beriringan saling kejar mengejar, buih-buihnya yang meninggalkan jejak disetiap pesisir pantai membuat sederet garis batas memanjang terbentang sejauh mata memandang. Aku disana, duduk melipat kakiku dipinggir pesisir pantai, menikmati tiap lekukan angin yang menyapa tubuhku yang hanya terbalut dress putih yang setengah basah, aku tersenyum.
“Hei..” suara itu memecahkan keheningan dan dengan sigap merangkulkan tangannya kepundakku, aku menoleh, kembangkan simpul bibir tipis merah jambu, kemudian dia mengecup keningku.
“Selamat hari jadi Ze..”
Aku memeluknya erat, sesekali deburan ombak mengeringi sebagai latar belakang musik antar pelukan aku dengannya.. “Aku sayang kamu Re, makasi ya selalu ada buat aku”  bau harum wangi flamboyan kuat masuk kedalam hidungku, parfume favoritenya dan juga aku, aku makin mendekapnya erat. Reno membelai rambutku yag panjang, dan sekali lagi mengecup keningku, selalu meninggalkan cerita dalam setiap kecupannya.
---
Sepenggal matahari siang itu begitu terik, mobil Jeep yang dikemudikan Reno berjalan melambat ketika lampu merah memberhentikan sederet kendaraan yang terpaksa diam mendadak serentak, raut wajah Reno yang tirus menampakkan kecemasan yang tidak dia jelaskan kepadaku, aku memandangnya berkali-kali, lewat sepion depan.
“Kamu beneran gak apa-apa?”
“Gak apa-apa ze, tenang aja ya, aku antar kamu ke Bandara, bentar lagi juga sampai kan.”
Sore itu, Bandara Ngurah Rai terlihat sedikit sepi, karena bukan akhir pekan atau musim liburan, Reno mengantarkan kepergianku ke Belanda, ya aku pergi ke Belanda, meninggalkannya di Denpasar dengan semangat cinta yang tidak akan pernah terhenti diantara kita berdua, karena hati kita nyata adanya. Aku pergi ke Belanda karena ada riset studi banding dari perusahaan tempatku bekerja, dan ini adalah riset impianku untuk promosi jabatan.
Tiba didepan pintu keberangkatan luar negeri yang tidak begitu besar, Reno masih memegang koperku, sebelah tangannya menggenggam erat jemariku, aku merasakan aliran darahnya lebih cepat dari biasanya, ada sedikit keringat basah ditelapak tangannya, aku tahu sekali jika seperti itu berarti dia sedang gugup, aku bisa kuat merasakannya. Kita berdua berhenti didepan petugas yang akan memeriksa tiket pesawat. Reno tanpa kata apapun melapas genggaman tangannya dan koperku, lalu memelukku, sangat erat, harum flamboyan menari-nari lagi dikepalaku, meresap cepat setelah masuk lewat hidungku, seolah seperti refil isi ulang yang akan menjadi pengingat dia seutuhnya. Ada sedikit sesak dalam hela nafasku kali ini, sedikit berat meninggalkannnya, pelukannya meluapkan bahagia yang hadir dipertengahan antara sedih siang itu. Dia lepaskan pelukan bersahajanya, aku tahu setelah ini akan ada kecupan dikeningku setelah dia mengelus rambutku, tepat!
---
Dan waktupun berlalu, dalam sekejap menjadi bulan-bulan penuh kerinduan, terbentang dihadapanku dengannya, jejak-jejak rindu sebatas Belanda dan Denpasar. Tak henti-hentinya kita bersua hingga tak terasa jarak kini telah menjadi sebuah kuota pasti pemisah keberadaan ditengah-tengah kita. Sangat bersyukur dengan segala tekhnologi yang ada saat ini, bukan hanya telpon seluler cerdas dengan berbagai fasilitasnya yang ajaib, video chatting di internet, dan sesekali kita berkirim surat ‘nyata’ bukan melalu sms, email, atau apapun namanya di jalur kabel itu. Bertumpuk-tumpuk kertas dengan semprotan flamboyannya, guratan-guratan kertas yang sedikit lecak karena tangan Reno yang basah, coretan di beberapa kata, dan perbaikan disebelah kata berikutnya menjadikan sebuah super sugesti bahwa kita berdua ini dekat, hanya berbatas dinding tipis yang kemudian memisahkan langit, angin, bintang, embun pagi, deburan ombak, lamunan dalam mimpi, dan sorot lampu-lampu malam yang menerangi jalan. Aku dan dia menikmati situasi ini, kami bedua saling memahami, bahwa hati kami tetap satu cinta. Wake up call, lunch alert, daily report, semuanya legkap, bahkan pengantar tidurpun Reno bersedia menelponku hingga aku terlelap tidur dan sama-samar kudengar suara dia jauh dari gagang telpon. Dia segalanya, sempurna!
---
Setahun berlalu, tak terasa waktu sama-sama mendewasakan hubungan kita, aku siap kembali ke pulau dewata dan mengisi setiap mimpi yang datang dalam tidurku dalam malam-malam sepi di Belanda. Sambutan hangat sudah bisa aku rasakan sejak aku melangkah turun dari pesawat, menginjakkan kaki lagi di pulau seribu pura, aku kembali.
Reno sudah berdiri pintu kedatangan luar negeri, wajahya sama sekali tidak secemas ketika terakhir kita bertemu, lebih cerah, dan kian bersahaja, aku kembali tergila-gila dengan si Mr. Flamboyan itu, berlari kecil kemudian langsung memeluknya, mengalungkan kedua lengan ke lehernya yang kekar. Tertawa kecil disamping telinganya, lalu berbisik pelan,
“Hei jelek, apa kabar?”
“Jelek tapi bikin kangen kan” jawabnya dengan suara yang setahun kemarin hanya bisa aku dengar dari gagang telpon atau Voice Message yang direkamnya untukku. Lalu aku lepaskan pelukan singkat itu, tersenyum manja didepannya, menggenggam tangannya, menggigit bagian bawah bibirku, lalu menganggukkan kepalaku.
“Siapa suru riset jauh-jauh.” Balasnya sambil mengacak-acak rambut kepala bagian atasku.
“Ya udah, sekarang kamu masih mau diam disini atau mau aku antar pulang kerumah?”
“Ayo,” ku ambil tas kecil dan koper yang beberapa detik lalu aku abaikan.
Reno yang dengan sigap mengambil koperku, lalu tangannya kembali menggenggam tanganku, kami meninggalkan bandara.
Sepanjang jalan menjelang sore itu menuju arah  Pemogan sedikit macet, Jeep Reno jalan melambat. Dan aku, menikmati suasana kota yang setahun lalu aku tinggalkan, aroma dupa disepanjang jalan, bangunan-bangunan sejajar berderet rapih yang didepannya berbata merah dengan patung-patung, dan lebar jalan yang sempit, semuanya tidak berubah, masih sama, hilir mudik wisatawan mancanegara juga masih terlihat sama, hatiku senang, kembali dalam pelukannya, aku melirik ke Reno yang serius mengemudi, kadang kucubit pipinya yang tirus itu.
Hampir tiga puluh menit bejalan, tapi belum sampai juga kerumahku yang seharusnya hanya dua puluh menit bisa sampai dari bandara. Aku baru sadar, ada yang salah, jalur yang Reno ambil bukan mengarah ke jalan Raya Pemogan rumahku, bodohnya.
“Kita mau kemana Re?”
Reno tidak menjawab, dia hanya senyum dengan sedikit alis mata terangkat, kembali melanjutkan kemudinya.
“Kamu nggak bilang kalau mau mampir dulu ketempat lain, aku belum  telpon bunda, tadi pas take offf aku bilang kamu jemput lalu langsung pulang kerumah.” Mulai sibuk mencari smart phone ku didalam hand bag. Kucoba menekan nomor pangggilan cepat, dan kutunggu beberapa saat.
Telepon yang anda tuju sedang sibuk atau berada diluar jangkauan.
“Wah gak biasanya telpon dimatiin gini. Kita kerumahku dulu aja ya Re, lagian itu koperku juga ribet dibawa-bawa.”
“Nggak usah, kita langsung aja, kamu kayak jalan sama siapa aja, lagian ini kan udah di Bali, kamu gak usah takut.”
Aku meyakinkan diri dengan ucpan Reno, dan menghilangkan jauh-jauh kecemasan yang sedikit timbul karena bunda tidak bisa dihubungi.
---
Jeep mengarah kearah Selatan Bali, tepatnya keujung selatan Bali, dan ini, aku rasa bukan tempat yang dekat, sudah hampir satu jam perjalanan dengan Jeep  Reno, aku mulai lelah dari sisa-sisa perjalanan tadi, tapi kubuang jauh-jauh rasa lelah itu karena ada rindu didalamnya.
“Uluwatukah kita?”
Reno tersenyum. Tidak beberapa lama jeda setelah itu, tepat ucapanku, kita berdua tiba di kawasan Uluwatu, satu dari ratusan pure yang tersebar di Bali. Aku keluar dari dalam Jeep, pakainku masih rapih, seperti pakaian office wear berwarna cream.
“Mau liat tari kecak?”
“hmm.. “ Reno tidak menjawab.
Kita menelusuri jalan setapak yang makin meninggi, orang-orang ramai lalu lalang, disamping kiri dan kanan kami tidak seperti biasanya, ada hiasan lampu-lampu kayu yang menyala, suara deburan ombak yang menghempas karang digaris tebing membahana, dan suara gemericik buih-buih putih kecil yang merayap kepermukaan karangpun terdengar jelas. Semakin mendekati pure, kulihat kerumunan yang tidak seperti biasanya akan menyaksikan pertunjukkan tari kecak, turispun tidak kelihatan, semuanya berpakaian rapih, dan seperti banyak yang tidak asing kulihat disni. Reno menggamit tanganku dan sedikit menarik tanganku agar aku berjalan lebih cepat. Semuanya semakin jelas, aku melihat beberapa kerabat yang kukenal, dan mereka semua tersenyum, mereka memandangiku dan Reno ketika tiba tepat diatas tebing Uluwatu. Ombak-ombak masih dengan gagahnya mencoba meruntuhkan karang namun gusar, dan langit senja yang menguning membuat bayangan dibalik deretan orang-orang ini. Sampai akhirnya kudapati, kedua orang tuaku ada diantara mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku menatap bingung kepada Reno, mau beranjak melepaskan genggaman tangan Reno, berlari ke arah bunda dan segera menyapanya, namun Reno menahanku, bunda tersenyum dan menggelengkan kepalanya, aku seperti mimpi, entah ini hari apa, mungkin kejutan ulang tahunku. Deburan ombak selalu memecahkan keheningan, menggebu-gebu, Reno melepaskan genggaman tanganku, dan seketika semua orang yang ada disitu berdiri, musik terhenti, hanya terdengar sisa-sisa buih dari hempasan ombak, hening.
Would you be my wife Zenorita?” Reno mengeluarkan Cincin perak dan menyodorkannya untukku,
Seperti semua terhenti, aku menggigit bibir bagian bawah, terkejud, kulihat kesekeliling, semua dengan raut yang sama, senyuman mengembang.
Deburan ombak-ombak menghempas karang, buih-buih yang cantik, laut lepas yang biru, langit senja yang menguning, dan matahari yang hampir meninggalkan senja, seperti kelopak mawar yang merekah, berbalut embun pagi, semua begitu sempurna, hembusan angin mendamaikan setiap jiwa yang hadir saat itu termasuk aku, hati ini pun tak hentinya menari-nari dalam iringan deburan ombak-ombak Uluwatu.
Aku menganggukan kepala, bahagia.
****

Label