Selasa, 08 November 2011

SELAMAT MALAM IBU



Selamat malam,
Kau menungguku dengan setia,
Duduk dikursi kayu tua di ruang tamu,
Entah sambil tertidur pulas, atau sambil duduk bersenda gurau dengan dia yang mencintaimu,
Aku ketuk pintu mungkin hampir tengah malam,
Aku tekan bell mungkin hampir sepertiga pagi,
Saat seisi rumah pulas dibalik selimut, engkau tetap bergegas bangun, terdengar langkah-langkah tergesamu dari luar, satu pertanyaan saat engkau muncul dari balik pintu:
"Sudah lama 'nang?"
Aku lihat wajahnya dibawah lampu teras depan yang temaram, ada beberapa lipatan diantara kedua matanya, dan sekilatan uban putih berpantulan dari kepalanya..
Meskipun terlihat betapa ia terkantuk-kantuk, tanpa berat hati menawarkanku untuk makan masakannya tadi sore, atau menawarkanku air hangat untuk cuci muka atau mandi kalau mau,
Kemudian mengantarkan aku kekamar, dan bertanya sekali lagi, apakah mau aku disiapkan makan malam meski aku tahu itu sudah begitu larut.
Berulang setiap harinya,
Usianya semakin menua,
Tapi satu yang tidak pernah menua darinya,
Cinta kasihnya kepadaku yang begitu besar,
Sayangnya yang tak berubah, dan perhatiannya yang semakin hari semakin bisa aku rasakan..
Terimakasih Ibuku,
Aku sungguh mencintaimu..

Inspiring frong Song For Mama, Boyz ll Men

DALAM GARIS BATAS





Dalam garis batas yang tercipta diatas khatulistiwa, aku tertegun dikurung diam, meraba dalam gelap, dan berbicara tanpa suara.
Dalam  garis batas yang tercipta diatas khatulistiwa, ada dingin yang menyergap, ada panas yang merayap, dan ada gelisah yang tidak berwujud.
Aku adalah sebuah representasi dari kamu, yang memiliki dua hati kemudian menyatu, tapi lalu menghilang.
Aku adalah sebuah representasi dari kamu, yang mencari, yang berbicara dengan awan, yang berlari bersama bintang, berucap salam bersama rintik hujan,
Aku resah, aku gamang, aku dalam rindu yang lembab, aku yang kering, aku yang tidak berotasi, aku yang diam, aku yang menari bersama cinta, sendiri.
Aku tertawa dalam jatuhnya hujan, aku mengurung hati dalam mimpi, dan kau berlari setelah kau nikmati.
Aku berpeluk rindu, berharap dalam setiap jejak mentari, dan tidak berhenti menanti.
Tertidur di atas jerami yaang lembab, terpejam dalam lelap, ada hembusan nafas yang didalamnya akan selalu beriring sebuah nama, adakah harapan yang sama?
Lama aku membelah garis batas, disetiap bisikan yang pernah aku dapatkan, dan disetiap sentuhan yang selalu aku rasakan.
Rembulan membekukan rasa rindu, mendinginkan hasrat ingin bertemu, dan menghancurkan dinding waktu.
Kita pernah bertemu, dulu, ketika waktu masih menyatu, aku dipelukmu, aku digenggammu, aku didekapmu, adakah kau rasakan itu?

Dalam garis batas kau ciptakan sebuah mimpi, kau buat sebuah harapan, kau bangun cinta, dan kita nikmatinya bersama..
Semoga masih sama...



(Taken from the song, Agnes Monica, Rindu)

OMBAK OMBAK ULUWATU




Ombak ketika senja itu beriringan saling kejar mengejar, buih-buihnya yang meninggalkan jejak disetiap pesisir pantai membuat sederet garis batas memanjang terbentang sejauh mata memandang. Aku disana, duduk melipat kakiku dipinggir pesisir pantai, menikmati tiap lekukan angin yang menyapa tubuhku yang hanya terbalut dress putih yang setengah basah, aku tersenyum.
“Hei..” suara itu memecahkan keheningan dan dengan sigap merangkulkan tangannya kepundakku, aku menoleh, kembangkan simpul bibir tipis merah jambu, kemudian dia mengecup keningku.
“Selamat hari jadi Ze..”
Aku memeluknya erat, sesekali deburan ombak mengeringi sebagai latar belakang musik antar pelukan aku dengannya.. “Aku sayang kamu Re, makasi ya selalu ada buat aku”  bau harum wangi flamboyan kuat masuk kedalam hidungku, parfume favoritenya dan juga aku, aku makin mendekapnya erat. Reno membelai rambutku yag panjang, dan sekali lagi mengecup keningku, selalu meninggalkan cerita dalam setiap kecupannya.
---
Sepenggal matahari siang itu begitu terik, mobil Jeep yang dikemudikan Reno berjalan melambat ketika lampu merah memberhentikan sederet kendaraan yang terpaksa diam mendadak serentak, raut wajah Reno yang tirus menampakkan kecemasan yang tidak dia jelaskan kepadaku, aku memandangnya berkali-kali, lewat sepion depan.
“Kamu beneran gak apa-apa?”
“Gak apa-apa ze, tenang aja ya, aku antar kamu ke Bandara, bentar lagi juga sampai kan.”
Sore itu, Bandara Ngurah Rai terlihat sedikit sepi, karena bukan akhir pekan atau musim liburan, Reno mengantarkan kepergianku ke Belanda, ya aku pergi ke Belanda, meninggalkannya di Denpasar dengan semangat cinta yang tidak akan pernah terhenti diantara kita berdua, karena hati kita nyata adanya. Aku pergi ke Belanda karena ada riset studi banding dari perusahaan tempatku bekerja, dan ini adalah riset impianku untuk promosi jabatan.
Tiba didepan pintu keberangkatan luar negeri yang tidak begitu besar, Reno masih memegang koperku, sebelah tangannya menggenggam erat jemariku, aku merasakan aliran darahnya lebih cepat dari biasanya, ada sedikit keringat basah ditelapak tangannya, aku tahu sekali jika seperti itu berarti dia sedang gugup, aku bisa kuat merasakannya. Kita berdua berhenti didepan petugas yang akan memeriksa tiket pesawat. Reno tanpa kata apapun melapas genggaman tangannya dan koperku, lalu memelukku, sangat erat, harum flamboyan menari-nari lagi dikepalaku, meresap cepat setelah masuk lewat hidungku, seolah seperti refil isi ulang yang akan menjadi pengingat dia seutuhnya. Ada sedikit sesak dalam hela nafasku kali ini, sedikit berat meninggalkannnya, pelukannya meluapkan bahagia yang hadir dipertengahan antara sedih siang itu. Dia lepaskan pelukan bersahajanya, aku tahu setelah ini akan ada kecupan dikeningku setelah dia mengelus rambutku, tepat!
---
Dan waktupun berlalu, dalam sekejap menjadi bulan-bulan penuh kerinduan, terbentang dihadapanku dengannya, jejak-jejak rindu sebatas Belanda dan Denpasar. Tak henti-hentinya kita bersua hingga tak terasa jarak kini telah menjadi sebuah kuota pasti pemisah keberadaan ditengah-tengah kita. Sangat bersyukur dengan segala tekhnologi yang ada saat ini, bukan hanya telpon seluler cerdas dengan berbagai fasilitasnya yang ajaib, video chatting di internet, dan sesekali kita berkirim surat ‘nyata’ bukan melalu sms, email, atau apapun namanya di jalur kabel itu. Bertumpuk-tumpuk kertas dengan semprotan flamboyannya, guratan-guratan kertas yang sedikit lecak karena tangan Reno yang basah, coretan di beberapa kata, dan perbaikan disebelah kata berikutnya menjadikan sebuah super sugesti bahwa kita berdua ini dekat, hanya berbatas dinding tipis yang kemudian memisahkan langit, angin, bintang, embun pagi, deburan ombak, lamunan dalam mimpi, dan sorot lampu-lampu malam yang menerangi jalan. Aku dan dia menikmati situasi ini, kami bedua saling memahami, bahwa hati kami tetap satu cinta. Wake up call, lunch alert, daily report, semuanya legkap, bahkan pengantar tidurpun Reno bersedia menelponku hingga aku terlelap tidur dan sama-samar kudengar suara dia jauh dari gagang telpon. Dia segalanya, sempurna!
---
Setahun berlalu, tak terasa waktu sama-sama mendewasakan hubungan kita, aku siap kembali ke pulau dewata dan mengisi setiap mimpi yang datang dalam tidurku dalam malam-malam sepi di Belanda. Sambutan hangat sudah bisa aku rasakan sejak aku melangkah turun dari pesawat, menginjakkan kaki lagi di pulau seribu pura, aku kembali.
Reno sudah berdiri pintu kedatangan luar negeri, wajahya sama sekali tidak secemas ketika terakhir kita bertemu, lebih cerah, dan kian bersahaja, aku kembali tergila-gila dengan si Mr. Flamboyan itu, berlari kecil kemudian langsung memeluknya, mengalungkan kedua lengan ke lehernya yang kekar. Tertawa kecil disamping telinganya, lalu berbisik pelan,
“Hei jelek, apa kabar?”
“Jelek tapi bikin kangen kan” jawabnya dengan suara yang setahun kemarin hanya bisa aku dengar dari gagang telpon atau Voice Message yang direkamnya untukku. Lalu aku lepaskan pelukan singkat itu, tersenyum manja didepannya, menggenggam tangannya, menggigit bagian bawah bibirku, lalu menganggukkan kepalaku.
“Siapa suru riset jauh-jauh.” Balasnya sambil mengacak-acak rambut kepala bagian atasku.
“Ya udah, sekarang kamu masih mau diam disini atau mau aku antar pulang kerumah?”
“Ayo,” ku ambil tas kecil dan koper yang beberapa detik lalu aku abaikan.
Reno yang dengan sigap mengambil koperku, lalu tangannya kembali menggenggam tanganku, kami meninggalkan bandara.
Sepanjang jalan menjelang sore itu menuju arah  Pemogan sedikit macet, Jeep Reno jalan melambat. Dan aku, menikmati suasana kota yang setahun lalu aku tinggalkan, aroma dupa disepanjang jalan, bangunan-bangunan sejajar berderet rapih yang didepannya berbata merah dengan patung-patung, dan lebar jalan yang sempit, semuanya tidak berubah, masih sama, hilir mudik wisatawan mancanegara juga masih terlihat sama, hatiku senang, kembali dalam pelukannya, aku melirik ke Reno yang serius mengemudi, kadang kucubit pipinya yang tirus itu.
Hampir tiga puluh menit bejalan, tapi belum sampai juga kerumahku yang seharusnya hanya dua puluh menit bisa sampai dari bandara. Aku baru sadar, ada yang salah, jalur yang Reno ambil bukan mengarah ke jalan Raya Pemogan rumahku, bodohnya.
“Kita mau kemana Re?”
Reno tidak menjawab, dia hanya senyum dengan sedikit alis mata terangkat, kembali melanjutkan kemudinya.
“Kamu nggak bilang kalau mau mampir dulu ketempat lain, aku belum  telpon bunda, tadi pas take offf aku bilang kamu jemput lalu langsung pulang kerumah.” Mulai sibuk mencari smart phone ku didalam hand bag. Kucoba menekan nomor pangggilan cepat, dan kutunggu beberapa saat.
Telepon yang anda tuju sedang sibuk atau berada diluar jangkauan.
“Wah gak biasanya telpon dimatiin gini. Kita kerumahku dulu aja ya Re, lagian itu koperku juga ribet dibawa-bawa.”
“Nggak usah, kita langsung aja, kamu kayak jalan sama siapa aja, lagian ini kan udah di Bali, kamu gak usah takut.”
Aku meyakinkan diri dengan ucpan Reno, dan menghilangkan jauh-jauh kecemasan yang sedikit timbul karena bunda tidak bisa dihubungi.
---
Jeep mengarah kearah Selatan Bali, tepatnya keujung selatan Bali, dan ini, aku rasa bukan tempat yang dekat, sudah hampir satu jam perjalanan dengan Jeep  Reno, aku mulai lelah dari sisa-sisa perjalanan tadi, tapi kubuang jauh-jauh rasa lelah itu karena ada rindu didalamnya.
“Uluwatukah kita?”
Reno tersenyum. Tidak beberapa lama jeda setelah itu, tepat ucapanku, kita berdua tiba di kawasan Uluwatu, satu dari ratusan pure yang tersebar di Bali. Aku keluar dari dalam Jeep, pakainku masih rapih, seperti pakaian office wear berwarna cream.
“Mau liat tari kecak?”
“hmm.. “ Reno tidak menjawab.
Kita menelusuri jalan setapak yang makin meninggi, orang-orang ramai lalu lalang, disamping kiri dan kanan kami tidak seperti biasanya, ada hiasan lampu-lampu kayu yang menyala, suara deburan ombak yang menghempas karang digaris tebing membahana, dan suara gemericik buih-buih putih kecil yang merayap kepermukaan karangpun terdengar jelas. Semakin mendekati pure, kulihat kerumunan yang tidak seperti biasanya akan menyaksikan pertunjukkan tari kecak, turispun tidak kelihatan, semuanya berpakaian rapih, dan seperti banyak yang tidak asing kulihat disni. Reno menggamit tanganku dan sedikit menarik tanganku agar aku berjalan lebih cepat. Semuanya semakin jelas, aku melihat beberapa kerabat yang kukenal, dan mereka semua tersenyum, mereka memandangiku dan Reno ketika tiba tepat diatas tebing Uluwatu. Ombak-ombak masih dengan gagahnya mencoba meruntuhkan karang namun gusar, dan langit senja yang menguning membuat bayangan dibalik deretan orang-orang ini. Sampai akhirnya kudapati, kedua orang tuaku ada diantara mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku menatap bingung kepada Reno, mau beranjak melepaskan genggaman tangan Reno, berlari ke arah bunda dan segera menyapanya, namun Reno menahanku, bunda tersenyum dan menggelengkan kepalanya, aku seperti mimpi, entah ini hari apa, mungkin kejutan ulang tahunku. Deburan ombak selalu memecahkan keheningan, menggebu-gebu, Reno melepaskan genggaman tanganku, dan seketika semua orang yang ada disitu berdiri, musik terhenti, hanya terdengar sisa-sisa buih dari hempasan ombak, hening.
“Would you be my wife Zenorita?” Reno mengeluarkan Cincin perak dan menyodorkannya untukku,
Seperti semua terhenti, aku menggigit bibir bagian bawah, terkejud, kulihat kesekeliling, semua dengan raut yang sama, senyuman mengembang.
Deburan ombak-ombak menghempas karang, buih-buih yang cantik, laut lepas yang biru, langit senja yang menguning, dan matahari yang hampir meninggalkan senja, seperti kelopak mawar yang merekah, berbalut embun pagi, semua begitu sempurna, hembusan angin mendamaikan setiap jiwa yang hadir saat itu termasuk aku, hati ini pun tak hentinya menari-nari dalam iringan deburan ombak-ombak Uluwatu.
Aku menganggukan kepala, bahagia.
****

”KITA” DAN AKHIRNYA




Dalam catatanku beberapa purnama singgah pada setiap malam yang berkabut pekat, Ku masih saja duduk didepan deg jendala kamar atas, memandanginya lalu tersadar beberapa tetes air mata jatuh perlahan, dan ingatanku kembali padamu. Berfikir tentang kepergianmu dalam jeda waktu yang aku coba untuk tidak tahu, dan anggap saja tidak datang,
Kala itu, aku yang betapa jatuh cintanya kepadamu sangat yakin akan mendapatkan perlakuan yang sama denganmu, hingga waktu itu tiba, dan kita berjumpa.
”Aku yang menemuimu” kau ucap seperti itu, itu yang kuingat,
Dan ada sedikit sekali bahagia yang mekar dalam hati terjauh. Karena aku tau sebenarnya ini palsu.

Malam itu kita bertemu dalam sajian makan malam yang sederhana namun bersahaja karena aku berusaha untuk benar-benar merasa bahagia. Senyumanmu, lesung dipipimu, belahan di rambutmu, cara kau menatapku, dan bahasa tubuhmu terhadapku semua kurekam dalam ingatan dan kusimpan dalam folder yang sampai kini tak bisa aku hapus, semua tersusun rapih.

”Senang kan kamu, akhirnya aku yang kesini, kapan kamu yang kekotaku?” ucapnya sambil menuangkan gula kedalam minumannya.
Aku tak menjawab, hanya sepotong senyum yang keluar dari bibirku yang kelu kala itu, karena masih saja memandanginya sampai hati ini terpuaskan.
”Kamu diam aja? Biasanya cerewet?” ucapnya sekali lagi mencoba cairkan suasana.
”Aku senang, akhirnya kita bisa ketemu.” kataku sedikit malu.
Dan dia, tersenyum, mengembangkan senyumnya berarti membelah lesung di pipinya, sangat manis dipandang mata, aku sangat cinta dia!
Setelah makan malam itu berlalu, aku masih saja kaku, berjalan disampingnya, digandeng tanganku dan dia berkali-kali menatap balik kepadaku, berulang kali, aku coba kuasai diri dan tak menujukkan diri bahwa sebetulnya aku benar-benar grogi.
Aku sadar, saat itu semua orang yang lewat didepan kami memandang kami dengan sedikit bingung, hanya karena dia dengan penampilannya yang seadanya dan aku masih lengkap dengan pakaian kantorku yang rapih, sangat rapih tepatnya. Tapi siapa yang perduli, ku beli semuanya malam itu, hanya untuk aku dan dia, berdua saja, tidak ada yang lain.

Beberapa hari berganti, berganti, dan kau masih bersamaku disini, bukan hanya dalam hati dan pikiran saja, namun hadir didepanku, kau adalah bahagiaku kali itu.

”Kamu pasti ilfeel jalan sama aku kan?” ucapnya sore itu disepanjang jalan taman hijau.
”Ilfeel? Ilfeel kenapa?” balasku sigap, berusaha untuk wibawa, namun ada bisik dalam hati ini seperti ingin menari-nari, entah karena apa.
Dia tidak menjawab, sekali lagi, lagi, dan lagi, hanya senyuman dengan bonus lesung di pipinya yang mengembang.
”Kamu senangkan aku kesini”
”Sangat” ku rangkul pinggangnya, dan semakin dekat dengannya semakin jelas harum tubuhnya, dan aku sangat menikmatinya, kau dan aku antara kita berdua saja. Aku benar-benar mendapatkannya, semuanya, hatinya, bahagianya, kala itu.

Kau sempat cumbu aku saat awal waktu itu, dibawah langit gelap namun megah dengan hiasan bintang yang memiliki rasinya masing-masing. Pertemuan mu dan aku kali itu kucatat sebagai sebuah pertemuan yang begitu eksotis, dalam beberapa jeda waktu tak menentu aku masih saja ingat jelas setiap goresan sentuhanmu di tubuhku, yang kini, menjadi bekas, luka yang menyayat setiap kali aku mengingatnya.

Aku tinggalkan kamu siang itu diantara trotoar jalan, tanganmu menggenggamku erat, akupun balas menggenggamnya erat, aku sedih, hari terakhir kita bertemu, kau akan berlalu dan pergi, meninggalkanku sendiri. Kupandangi matamu dalam tatapan kasih yang tiada terdefinisi, ada kilatan ketakutan, takut akan benar-benar kehilangan, takut aku lepaskan pergimu, takut bahagia menghilang diantara kita. Dan kemudian, kau pergi, lepas dari pandangan, menjauh dari sentuhan.

Setiap detik mulai berlalu, awalnya sedikit malu-malu, namun kian detik, menit, jam, menjadi hari-hari yang aku rasakan mulai berkejaran. Waktu benar-benar menghilang, hempaskan aku dalam bimbang, kau dan aku tidak ada kita disana. Dalam setiap malamku kini berubah menjadi bisu, kian membisu.
Aku mengusap air mata yang jatuh mengingat saat itu datang, dalam sebuah perjalanan pagi yang harusnya menjadi semangat, akhir pekan, bebas dari semua pekerjaan, semua menyebutnya dengan ucapan T.G.I.F Thank’s God It’s Friday! Kau, membuat hari itu menjadi biru, dalam seketika aku membeku. Yang kemarin kita bertemu, ternyata benar, adalah terakhir kalinya aku dan kamu bertemu dalam ’kita’, antara kau dan aku. Kau hapuskan aku dari ingatanmu, kau abaikan semua panggilanku kepadamu, dan kita berdua menjadi orang asing!

Dan kembali dalam malam purnama yang singgah, serupa lingkar bulat dan cahayanya, namun beda nuansanya, aku terluka, masih terluka.

Ketika sebuah pilihan untuk bahagia jatuh,
Anggap saja itu sebagai sebuah permainan,
Setiap permainan yang akhirnya akan ada yang kalah dan menang,
Setiap hati memiliki peran,
Setiap hati memiliki rasa,
Aku memilih rasa dan peran yang sama, yaitu, mencintaimu,
Namun aku lupa kala itu tentang ’sakit’ yang akan ada setiap kali sesuatu berakhir dengan akhir yang tidak diharapkan,
Aku coba menerobos celah waktu dan batas jarak antara aku dengannya,
Namun sia-sia, berkaca pada purnama seperti lentera dimalam yang buta.
Aku pemain yang kalah, dan aku menyerah...

***

DI SATU JINGGA SORE ITU



Aku dilupakan begitu saja ketika kamu ternyata aku temui berbeda, di satu jingga sore itu, kau dengan kikuknya bermata nanar menatap aku yang dengan sedikit ‘terkejut’
Aku, kamu, dan cerita tentang kita yang sepertinya terlihat begitu sempurna, di satu jingga sore itu seolah berubah dengan sedemikian rupa, namun aku tertawa, bukan kecewa.
Kau, dapat kubaca dari segala bahasa tubuh yang terlihat oleh mata, gugup memandangku dan aku dengan pesona, menatap balik kepadamu, kepada kalian, kepada diantara kalian.
Aku melangkah tanpa ragu, tanpa berbalik, tanpa berpikir, tanpa pertimbangan, dan tanpa iris hati yang sakit, mendekatimu, mendekati kalian, diantara kalian, dalam catatan satu jingga sore itu.
Aku kau bilang hilang, aku kau bilang pergi, aku kau bilang tak dapat kau temui, lalu kau pergi, meninggalkan jejak abu-abu dalam semburat sesal karena kau kira aku yang tertipu olehmu, namun itu cerita lalu, -aku tersipu malu-
Kau, dengan catatan kakimu pergi meninggalkanku, mencoba melupakanku, dan mencoba menghapus bayanganku, dan kau, kira aku yang terluka, aku yang kecewa, aku yang terlupa oleh cerita diantara kita.
Dan, sebuah titik balik seolah euforia yang menari-nari disudut kota dikala jingga menyeruak dari sudut-sudut cakrawala, aku dan kau kemudian dipertemukan oleh kita. Kau, menggengam tanganya, sedikit terlihat lebih mesra, dan ia, menatap penuh curiga, berganti tatapan diantara kita, lalu aku, aku dari depanmu melambaikan tangan keudara, dan berjalan melewat mu, kita, dan kalian dengan satu langkah pasti,
Sedikit berlari, bias senyum dan semburat bahagia mulai menguasainya, dia, kupanjangkan langkah kaki, berlari, kemudian ku peluk dia di balik jendela, erat dan ku kalungkan kedua tangan kelehernya, mengecup keningnya, lalu berbalik kutatap kau dengannya, dan disana, disatu jingga, ada cerita tentang kita.
Aku, dengan dia, dan kau bersamanya, aku tersenyum dengan dia, dan kau dengan mimik muka yang sulit aku baca namun tidak bisa berbohong, seolah berkata, kita sama.
Kau yang salah, jingga yang membaca, mempertemukan, dan menjadikan satu adegan,  aku, bukan terluka, bukan menghilang, aku memang cinta, aku punya cinta, aku dan cerita tentang kita, namun aku tidak sendiri, ada kau dengannya dan aku dengan dia, kita sama, salam hangat dari jingga dikala sore tiba.

Label