Selasa, 08 November 2011

MARRIAGE AND THE RAIN




Langit sore yang cerah, sepenggal mataharinya masih tertutup gumpalan awan yang bermain dilautan angkasa. Aku dan Bimo, memasuki rumah bergaya klasik yang terletak di Selatan Jakarta. Memasuki rumah itu sudah terasa suasananya yang berbeda, iringan musik gamelan yang disusul dengan tiupan seruling bambu, benar-benar gemetar aku melangkah menginjak lantai demi lantainya. Disetiap sudut ruangan dipasang foto-foto pernikahan dengan berbagai macam model. Ada etalase-etalase yang memamerkan gaun pengantin dan pakaian-pakaian pelengkapnya. Aku menggenggam lengan Bimo erat, Bimo senyum kepadaku. Tak berapa lama kami sampai di lantai dua dari bangunan bercat tembok merah marun itu, sesorang sudah siap berdiri menyambut kami.
“Wah, calon pengantinnya sudah datang, ayo sini mari, pesanan gaun pengatin kalian sudah masuk tahap akhir, tinggal finishing saja, Rena biar sama Ibu, kamu Bimo ikut dengan Mas Giring diruangan pria sana ya nduk, biar Rena Ibu bawa dulu untuk cicipi baju pengantinnya, nanti kalau sudah siap Ibu panggil.” Panjang lebar wanita paruh baya itu menjelaskan. Ibu Anggoro namanya, dia adalah designer ternama di Jakarta, khusus untuk pakaian pernikahan. Aku mengikutinya dari belakang, menuju ruangan yang agak lebar.
“Sini nduk, ini tho baju pengantin yang bakal kamu pakai nanti pas resepsinya, coba sini-sini kamu lihat dulu, sekalian kamu cobain, biar Ibu bisa lihat pas apa ndak dibadanmu.”
Aku menurutinya, melepaskan pakaian yang kupakai dan menggantinya dengan pakaian pengantin. Sebetulnya hanya sebuah kebaya ‘impianku’ terbuat dari beludru berwarna perak dan emas, terlihat begitu elegan potongannya, setiap detail jahitannya, aku memandangi indah tubuh ini bergelut busana pengantin ‘impianku’, keluar dari dalam ruangan, dan menampakkan diri didepan Bu Anggoro, sambil tertunduk malu-malu, mataku tertuju pada cermin yang terpasang disudut ruangan, cermin besar yang menangkap keseluruhan bentuk tubuhku yang terbungkus kebaya panjang berwarna perak.
“Owalah ayu tenan anakku wedok.. Pas tenan klambi manten iki kanggo kowe nak..” ucap Bu Anggoro begitu bersemangat. Kemudian dia merapikan keseluruhan pakaian yang aku kenakan, melipat bagian-bagian yang sengaja ia tandai untuk diperbaiki disetiap sudut yang melekat dibadanku. Sampai pada bagian pundak bu Anggoro menyingkap potongan jahitan baju kebaya dan,
“Aduh, bu jangan keras-keras pegang tanganku.” Aku menyeringis kesakitan, menghindari tangan bu Anggoro yang baru saja memegang bahu lengan kananku. Penasaran sepertinya, bu Anggoro meraba luka memar di bahu lengan kananku, memandangiku dengan tatapan iba, dia memaksaku untuk bercerita…
***
Café Victoria, aku menunggu Bimo menjemputku yang baru saja mengikuti acara press conference dan media screening film The Smurf. Sambil menunggunya aku sedikit membuat review untuk dikirim ke editorku terkait film yang baru saja aku tonton bersama teman-teman pers lainnya. Dua jam berlalu, kulihat arloji kulit yang melekat dilengan kananku, pukul sepuluh malam. Harusnya sejak dua jam lalu Bimo menjemputku, tapi sampai sekarang aku tak melihatnya tiba disini. Review tulisan sudah selesai sejak tadi, tak hentinya aku kirim Bimo pesan sngkat sms, dan kuhubungi kenomor ponselnya, tetap tidak ada jawaban, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan taxi.
Pukul satu malam, mata ini tak kuasa membuka kelopak mata, kantuk merajai tubuh, namun ketukkan pintu kamar kostku berkali-kali membuatku tidak nyaman, akupun terpaksa bangun dan melihat siapa yang datang pagi-pagi buta begini.
Bimo, aku lihat dia gusar diluar saat aku intip dia dari balik gorden tipis yang menutup jendela kamar. Aku menguncir rambut panjangku, lalu merapikan baju tidurku. Ada apa dia datang hampir pagi begini. Kubuka pintu, tanpa sepatah katapun, Bimo yang sangat aneh tampangnya saat itu langsung menerobos masuk kedalam kamar kostku.
“Bagus ya, aku jemput kamu ke Victoria dan kamu sudah pulang? Kemana kamu?”
Aku kaget, bukannya pertanyaan ‘kemana kamu’ itu seharusnya aku yang berhak menanyakannya? Ada yang salah dengan Bimo malam ini, selalu seperti ini.
“Lho, aku hubungin kamu Bim, dua jam aku tunggu di Victoria, kamu ga ada kabar sama sekali, ya aku langsung pulang, ngapaian aku nunggu kamu yang ga ada kabarnya.” Aku membela diri.
Bimo tak mau kalah, bicaranya semakin keras, dan ada ketakutan menjalar disekujur tubuhku, terulang lagi. Dan keributan karena hal kecil dimalam setengah pagi itu kembali pecah. Amarah Bimo memuncak lagi, dan sepertinya dengan sadar memukul keras kebagian bahu kananku setelah dia menamparku dengan sangat keras. Aku berusaha melawan, namun semakin aku melawan, Bimo semakin terlihat buas, pukulannya tak henti-hentinya ketubuhku, dia memecahkan segala benda yang ada didekatnya, melemparkannya kepadaku, aku menghindar sebisaku, rambut panjangku habis dijambak olehnya, aku tak kuasa melawan, hanya pasrah, amarah Bimo menggila, sampai dia menuduhku bahwa teman kerjaku yang mengantakanku pulang kesini, teman kerjaku yang selalu dia cemburui dan dijadikannya alasan untuk terus memukulku.
“Kamu diantar Arya kan pulang kesini? Ngapain aja tuh si brengsek kesini? Gak kapok dia berurusan sama gue!”
Percuma aku menjelaskan panjang lebar, aku hanya bisa diam menangis, kesakitan. Ingin rasanya melawan, tapi rasa sayang ku ke Bimo melebihi segalanya, dan aku tahu pada akhirnya pasti akan percuma karena dia yang lebih kuat, biar saja aku yang mengalah.
Aku masih terisak, menahan rasa sakit bekas pukulan Bimo, kutengok jam dinding dikamar kostku, pukul dua pagi. Bimo duduk di ujung ruangan, di sofa sudut yang menempel pada tembok, aku terus memandanginya, ada wajah penyesalan dari sudut sana. Masih tak beranjak, duduk dilantai memeluk kedua kakiku, menahan sakit pada punggung, dan menahan sakit dalam hati karena selalu dituduh selingkuh. Bimo bangun dari sofa, mendekatiku, ada air mata yang menetes dikuda belah matanya, dia memelukku, sangat erat, penyesalan datang, terlambat!
“Maaf…”
Kata itu keluar dari mulutnya yang beberapa saat lalu mencaciku, aku tak menjawab, mengabaikan, diam lebih baik ketimbang aku berbicara tapi sia-sia, tidak akan menyembuhkan rasa sakit dibadan dan hatiku. Bimo tahu betul apa yang dia lakukan padaku, tapi masih saja berlaku seperti itu, berkali-kali. Kata maaf seolah bisa membayar semua yang telah dia lakukan kepadaku. Dan gilanya, hanya dalam hitungan menit, aku bangkit, mengalah, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun, bersikap biasa, mencoba tegar, dan berfikir bahwa Bimo satu saat pasti akan berubah, semoga saja.
***
Delapan tahun, hubunganku dengan Bimo berjalan, seperti naik turun bukit, aku yang dengan tulus mencintai dia, menerima segala kekurangannya, sikap kasarnya kuanggap sebagai simbol dari kasih sayangnya kepadaku, sedikit gila memang, aku yang teraniaya memandang hal tersebut adalah ungkapan sayangnya terhadapku. Dan aku menangis dipundak Ibu Anggoro yang sudah sangat aku anggap sebagai Ibu angkatku. Dia mengelus rambutku perlahan penuh kasih sayang. Tidak banyak dia berkomentar soal hubunganku dengan Bimo. Bu Anggoro hanya mengatakan, cinta bukan berarti menyakiti, cinta itu saling berbagi kebahagian, kalaupun sedih dan sakit, itu harus dibagi bersama, bukan ditelan sendiri-sendiri.
Aku memikirkan kembali kalimat terakhir bu Anggoro kepadaku, memikirkannya berhari-hari, berminggu-minggu, hingga sampailah pada akhirnya hari yang ditunggu-ditunggu, hari pernikahanku dengan Bimo.
Gaun pengantin, kebaya dengan jahitan benang emas dan perak membalut tubuhku yang aku lihat sendiri begitu sempurna, hiasan diwajahku, sanggul, bunga-bunga melati yang melingkar dikepalaku, dan kain batik yang melingkar dibawah kebayaku, semua sempurna, Bu Anggoro menyulapku bak ratu kraton Solo yang baru keluar dari peraduannya dikala purnama bersinar, luar biasa. Aku mengepalkan rangkaian bunga dikedua tanganku, menuju pelaminan dimana aku dan Bimo akan bersaksi akan terikat dalam satu ikatan tali pernikahan.
Seharusnya ini adalah hari yang paling luar biasa untukku, semua orang berdoa untukku, bersuka cita menyambutku, dan bergembira menyertainya. Aku, tertutup kabut abu-abu, gamang menguasai pikiran dan alam bawah sadarku, bahagia dan sisa sisa luka jalan beriringan. Alunan musik gamelan dan seruling bambu menggema sepanjang aku melangkah menuju Bimo yang ketika itu aku lihat begitu tampan. Aku memang sangat mencintainya, dia sempurna untukku, begitupun sebaliknya.
Setiap langkah menuju pelaminan, aku gemetar, hati ini takut sekaligus cemas, perkataan Bu Anggoro waktu itu kembali berputar-putar mengitari pikiranku, terus berulang-ulang, cinta bukan berarti menyakiti, cinta itu saling berbagi kebahagian, kalaupun sedih dan sakit, itu harus dibagi bersama, bukan ditelan sendiri-sendiri.
Aku bingung memulainya dari mana, ketika pertanyaan apakah aku siap menemani Bimo dalam suka dan duka, menjadi istrinya dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan, aku menunduk, memikirkan setiap kejadian yang telah aku lalui selama delapan tahun bersama Bimo, aku terhenti dalam putaran waktu yang menarikku diantara persimpangan buntu, aku mendengarkan hati dalam diam, mendengarkan suara apa yang paling terdengar, sontak kembali kedepan Bimo yang dengan sadar menyentakkan lengannya dengan keras kepinggangku, memintaku menjawab pertanyaan sang penghulu, dan, seketika, aku menggelengkan kepalaku, menatap Bimo dalam diam, hujan turun bersamaan, aku berlari meninggalkan pelaminan, semoga akan ada bahagia setelah cinta ini aku tinggalkan…

****

DRAMA LIMA TAHUN




Usiaku lima tahun kala itu. Berpakaian lengkap dengan baju lengan panjang, jeans beludru, dibalut mantel kulit buatan lokal, tidak lupa topi kupluk abu-abu pemberian eyang sebelum beliau meninggal. Sore itu langit sangat bersahabat, berupa baik dengan gumpalan awan-awan yang menyerupai kura-kura, jerapah, gajah, bahkan aku bisa membayangkan ada yang bentuknya mirip dengan robot robocop yang sudah rusak. Aku bermain kubik di latar depan rumahku. Tidak henti-hentinya kening ini berkerut, karena berfikir keras ingin membangun apa dari potongan-potongan kubik itu. Setengah jadi bangunan tinggi, seukuran tubuh kecilku yang tidak sampai satu meter. Kemudian aku loncat kegirangan, karena melihat hasil karyaku selesai. Dan tidak terhitung beberapa menit aku senang, tiba-tiba saja pria yang tubuhnya lebih tinggi datang menghampiriku kemudian menendang bangunan balok yang sudah susah payah aku bangun. Dia tertawa liar melihat kubikku berhamparan, aku melepas kupluk abu-abuku, mendekap kedadaku, ketakutan, lalu menangis, menangis keras, takut karena orang itu malah semakin tertawa kencang. Aku juga menangis semakin kencang, orang itu meledekku, semakin mentertawakan ku, lalu dia mendorongku kebelakang, sampai aku jatuh terduduk, tangisku makin keras, terisak-isak, menutup mataku dengan kupluk, dia masih berdiri mentertawakanku. Pintu pagar berderit cepat, dan aku mendengar suara langkah kaki yang berlari semakin mendekatiku, aku tidak berani menatapnya, masih menutupi mataku dengan kupluk sambil terisak, tersedu. Sampai aku sadar, merasakan tubuhku terangkat, aku buka kuplukku dan kulihat tatapan mata coklat dengan garis keriput dibawahnya, dia memelukku.. Ayah... aku balas memeluknya. Aku dalam pelukan Ayah, ku dengar lelaki yang tadi merobohkan bangunan kubikku diusir oleh Ayahku, Ayah seperti marah besar, lalu dia kembali menurunkanku setelah menutup pintu kayu yang berderit. Aku masih terseguk, mengelap sisa-sisa air mata, mukaku memerah saat itu, aku ingat betul, Ayah senyum kepadaku, memelukku lagi, membenarkan kerah bajuku, memakaikan kupluk kekepalaku lagi, lalu, mengumpulkan potongan-potongan kubik yang berserakan. Kemudian Ayah mengajakku membangun kembali kubikku menjadi bangunan kesukaanku, aku kembali tertawa riang, satu persatu kubik kami susun, sampai menjadi bangunan tinggi. Tiba-tiba saja, arak-arak gajah, jerapah, dan robot robocop yang berterbangan di awan berubah warnanya menjadi gelap, seketika hujan turun. Ayah dengan sigapnya menggendongku, menarik tas kerjanya yang dia lupakan, dan membawaku berlari keberanda rumah kami yang sederhana. Hujan turun, aku dan Ayah tersenyum melihat bangunan kubik kami tersiram air hujan dihalaman, jariku gemetar sedikit kedinginan, mantelku juga basah, sadar akan hal itu Ayah langsung membawaku masuk kedalam rumah.

***
Malam berlalu, Ayah menina bobokanku diatas kasurku yang tebal berselimut lapis tiga. Diluar masih hujan, sangat deras. Setelah membuatkanku cokelat panas, Ayah membacakan cerita dari negeri pinokio, aku sangat suka cerita itu, berkali-kali diulang tapi tidak penah bosan, lucu membayangkan jika kita bohong, maka hidung kita akan memanjang, kadang aku dan Ayah tertawa bersama ketika Pinokio terpaksa berbohong dengan Ayahnya yang menciptakan dia. Lampu kamar dipadamkan setelah Ayah melihatku tertidur pulas. Kemudian ia keluar dan meninggalkan kamarku. Tapi satu waktu juga aku mendapati Ayah tertidur disebelah kasurku, duduk disampingku diatas kursinya tempat ia bercerita, aku yang terbangun sesekali berbagi selimut dengannya, memandang wajahnya yang kelelahan.
Malam itu aku sepertinya aku tidak bisa tidur pulas, terbangun disepertiga malam, lalu masih dengan pijama kotak-kotak aku turun dari kasur, ingin menemui Ayahku di kamarnya. Bunyi pintu ku berdecit pelan saat aku membukanya, perlahan aku melangkah, aku melihat lampu ruang tengah dibawah masi menyala, berarti masih ada Ayah disana, mungkin sedang nonton TV pikirku. Lalu aku menuruni anak tangga, sama-samar mulai aku dengar suara-suara, suara yang sudah lama tak kudengar dirumah ini, aku lupa berapa lama saat itu. Ibu, aku mendengar suaranya, tapi kali ini dengan nada suara yang aku tidak mengerti, semakin pelan aku langkahkan kaki menuruni anak tangga. Semakin jelas aku dengar suara mereka bercakap, nafasku kutahan, ada sedikit ketakutan yang seketika menjalar dari ujung kakiku yang masih kecil. Aku mengintip dari balik ujung anak tangga, kearah ruang tengah, kudapati Ayah sedang berbicara dengan Ibu, disana, ada orang tuaku, lengkap, tapi aku gemetar, ketakutan. Dan, aku menguping pembicaraan mereka.
“Biar Denis aku yang urus, mana bisa kamu kerja dan bisa fokus mengurusnya, setiap hari aku dengar dia sendiri, kecuali kamu pulang lebih awal dari pekerjaanmu atau bisnismu, atau apalah itu.”
“Denis bahagia bersamaku, jangan paksa aku untuk melepaskannya.”
“Sudah dua tahun kita bercerai, dan kau tidak memberikan aku kesempatan untuk mengurus anakku sendiri? Apa itu adil?”
“Apa? Adil? Kamu membicarakan soal adil disini? Apa adil? Saat aku tugas keluar kota karena pekerjaan tiba-tiba saat kembali kamu meninggalkan Denis sendiri dirumah sementara kamu pergi dengan mantan pacarmu itu? Apa itu adil?”
Aku melihat ibuku tertunduk, lalu menangis, intonasi mereka sangat keras, aku menangis melihatnya, mereka bertengkar didepanku, meributkan hal-hal yang tidak sama sekali aku mengerti. Aku bingung harus bagaimana, dan aku berbalik dari dinding tempat aku mengintip mereka, dengan piyama kotak-kotak yang lengannya kebesaran lebih panjang dari lenganku, aku menangis memandang kedua orang tuaku.
“Denis, kamu, “ suara Ayahku yang pertama aku dengar, dia langsung mendekatiku, memelukku kemudian menggendongku dalam dekapannya, selalu ada kehangatan yang aku rasakan ketika aku dipeluk olehnya, ada ketenangan lebih dari sekedar tenangnya malam-malam tanpa suara jangkrik atau erangan kodok dipematang sawah. Aku menangis, sedih. Memeluk Ayahku erat. Ayah hendak membawaku kembali kekamarku, naik ketangga, namun Ibu menghalangi kami, Ibu menarikku dari pelukan Ayah, mengambilku dari pelukan Ayah, kemudian mencoba memberikan pelukannya untukku, pelukannya yang dingin melebihi hujan sepanjang hari tanpa henti, pelukannya yang kaku seperti gerakan robot robocop ku yang rusak.
“Biar mulai sekarang Denis bersamaku Mas, aku Ibunya, atau, biarkan aku bertanya pada Denis tentang satu pertanyaan.” Ibu mendudukkanku di sofa tua empuk di ruang TV, mereka berdua menatapku, seperti sedang mengadiliku, Ayah dengan mata cokelatnya yang sudah begitu aku kenal, raut wajahnya yang tirus, alis matanya yang tebal, dan senyumannya yang selalu ada kapanpun, namun kali ini pertama kalinya aku lihat tidak ada senyuman itu, seperti tatapan kekhawatiran. Dan Ibu, perempuan dengan rambut tersisir rapih, dan ada warna-warna di bibirnya itu yang mencolok mataku. Ibu seolah-olah sedang menghakimiku karena aku mencuri makanan dari kulkas, aku tidak suka pandangan matanya kepadaku.
Aku menangis dalam keadaan ini, melihat kedua orang tuaku yang seperti sedang menunggu sesuatu hal besar untuk mereka. Ayah aku lihat lebih tenang ketimbang Ibu yang seperti cemas. Kemudian, sampai akhirnya, pertanyaan dari mulut Ibuku terlontar.
“Biar kita tanyakan kepada Denis, supaya kita tahu apa maunya dia, apa yang dia inginkan.” Ucap Ibuku kepada Ayah. Ayah tidak menjawab, Ayah hanya menatapku, mata coklatnya penuh harap, sedikit berkaca. Aku semakin ketakutan, menangis.
“Kamu tidak berhak menanyakan kepada Danis!” kata Ayahku tegas,
“Biar aku mengantarkan dia kekamarnya, ini sudah larut malam.”
“Tidak, jangan dulu, biar aku tanyakan, kamu sama sekali tidak memberikanku kesempatan?”
Aku memejamkan mata dan menutup kedua telingaku dengan sisa piyama yang panjang dilenganku, air mata menetes dan tangisku pecah.
“Denis, dengar Ibu, jawab pertanyaan Ibu, hei Denis, dengarkan Ibu!” Ibu menarik tangaku dari telinga, memaksaku untuk mendengarkannya, mataku masih kututup, tak mau aku melihat wajahnya, aku takut.
“Kamu jawab pertanyaan Ibu, kamu pilih Ayah atau Ibu, jawab dengan jujur, kamu mau tinggal bersama Ayah atau dengan Ibu?”
Aku tidak mengerti pertanyaan macam apa itu? Sama sekali tidak pernah aku pikirkan pertanyaan itu, yang aku tahu aku memiliki dua orang tua yang tinggal terpisah, Ayah meninggalkan Ibu karena Ibu pergi bersama orang asing yang tidak aku kenal, Ayah merawatku sejak usiaku tiga tahun, sampai sekarang sudah lima tahun. Dan sekarang Ibu kembali, membawa pertanyaan tentang aku mau tinggal bersamanya atau tetap dengan Ayahku. Aku menangis sejadinya, kesedihanku saja tidak bisa aku deskripsikan karena apa? Aku masi lima tahun, yang ada dipikiranku, membangun kubik di halaman depan, menjadikannya bangunan tinggi setinggi tubuhku yang tidak sampai satu meter. Lalu melihat awan-awan yang berarak menyerupai gajah, beruang, jerapah, atau robocopku.
****


 _Dance with My Father_

TIDAK TERDEFINISI



Deskripsi singkat tentang dia yang namanya terukir erat dalam pikiran ini. Awal dari ciptaan Tuhan yang luar biasa kuat, setelah mama. Memiliki sifat yang begitu tegas sekaligus lembut bersamaan keduanya. Sosok wibawa yang selalu mengamati dari belakang, dan selalu siaga setiap kali kita dalam keadaan susah. Pria dewasa, yang berusaha membahagiakan setiap orang yang ada disekitarnya tanpa terkecuali, anak maupun istri. Selalu ingin melihat keutuhan keluarga, dia adalah imam sekaligus pemimpin yang sangat bijaksana, dialah sosok pelindung yang bersahaja, Luar biasa, dan aku jadikan dia sebagai simbol kedamaian, penetral suasana bagi sebagian wanita, selalu cerdas membuatku tertawa. Ayah yang selalu menunjukkan bahwa kita adalah kita, bukan siapa-siapa namun penuh makna dalam keluarga. Rendahkan diri di atas tahtanya demi keluarga. Selalu dan selalu akan menjadi panutan sepanjang masa. Memimpin keluarga dan paling mengerti rumah tangganya.
Dalam sebuah catatanku yang usang tertutup debu, aku menyingkap kenangan yang sudah lama aku tinggalkan bersama terbalut rindu yang tidak menentu. Tidak sedikitpun terbersit dalam khayalan disetiap kesempatan apapun, bahwa, pada akhirnya aku akan bertemu saat-saat ketika aku harus melihat, yang tidak terdefinisi, pergi dalam sendiri, berpisah, dan keluar dari hidupku selamanya. Hingga aku sadar, bahwa ini adalah kehilangan yang sesungguhnya, dia yang aku cintai dalam doa, dalam nafas, dalam langkah dan jejak hidupku, tak akan pernah sedikitpun lepas dari ingatanku.
Marahnya adalah cinta, kepenatannya adalah cinta, tangisannya dalam sepenggal malam adalah cinta, keringatnya adalah cinta, kerja kerasnya adalah cinta, perjuangannya adalah cinta, diamnya adalah cinta, anggukan kepalanya adalah cinta, setiap bahasa tubuhnya adalah cinta, cinta yang kasat mata, tidak tertulis, hanya tersirat.
Panas matahari yang membakar kulit cokelatnya, debu-debu disetiap jalan yang menempel pada wajahnya, atau deras hujan yang membuat tubuhnya menggigil, semua tidak pernah diperhitungkan olehnya. Caci maki, hinaan, pujian, tertawaan, guyonan baik ataupun buruk, singgungan, semua tidak pernah akan melukainya karena hatinya sekeras batu karang yang tidak pernah hancur terbentur ombak di samudra.
Kala siang berpeluh keringat, kala malam bermandi hangat bersama keluarga. Senyuman ku, Mama, adik, kakak, adalah harga mati dari bahagianya Ayah yang ia beli dengan susah payah. Setiap sen rupiah yang keluar dari kantongnya tidak akan pernah dimintanya kembali, tidak akan ada perhitungannya, tidak akan ada untung ruginya.
Tak kasat mata ketika aku sadar bahwa Ayah kini tiada. Sosok yang selalu aku kagumi telah pergi, meninggalkan kami disini. Entah ketika saat saat itu datang aku sedih atau kecewa, sedih karena ternyata Ayah tak menepati janjinya untuk selalu menemani kami bersama-sama, dan kecewa karena Tuhan mengambilnya begitu cepat. Kehilangan sosoknya ketika aku tumbuh dalam masa remaja. Aku dalam sisa-sisa air mata, mengingat ketika ia dibaringkan dalam tempat pembaringan terakhirnya, dan akan hilang selamanya dari pandangan mata, akupun berkaca-kaca tanpa bicara, Saat dulu Ayah ada, aku selalu memandangnya dalam setiap tidurnya, dan kini, aku memandangnya terbaring dalam tempat tidurnya yang terakhir. Diatas namanya yang terukir dibatu abu-abu, aku tersimpuh tak mau beranjak, tak ingin pergi meninggalkannya, ingin selalu ada bersamanya, ingin memeluknya setiap saat dia kembali membuka pintu rumah. Kepergiannya mendewasakanku, kehilangannya memberikan arti bagiku. Dan air matapun jatuh, kembali mengingatnya... yang tidak terdefinisi.
*****

Singing: Dance with my Father - Luther Vandros

TINGGALKAN MIMPI




Kembalikan aku ke masa lalu, saat aku beranjak dari diri yang sepertinya layu, dipaksa membuka mata menuju dunia yang kabarnya mempesona.
Aku juga diminta untuk meninggalkan dia yang dulu kita berdua, lari dalam langkah-langkah kecil diatas pasir  dreamland, meninggalkan jejak mungil di atasnya, menuliskan nama kita diatas pasirnya yang putih, lalu terhapus lagi oleh ombak-ombak dan buih-buihnya yang putih cantik.
Ada lekukan pada setiap gerakan tarian cinta yang tercipta diantara kita, namun habis saat musik berhenti diputar.
Aku benar-benar menghilang tinggalkan semuanya dalam kenangan. Menapak mengukir jejak, menuju mimpi yang aku sendiripun tidak tahu maknanya.
Kini, aku kembali,
Melihat ke tempat saat aku melupakan semuanya, merasakan kehadirannya yang sudah tak berwujud berupa, hembusan canda tawa, gemericik air dari pancuran, dan cerita-cerita tentang mimpi, semua masih ada disini, namun telat aku kembali, mereka telah pergi.
Setiap kenangan adalah harta,
Setiap kenangan adalah lorong waktu,
Setiap kenangan adalah mimpi,
Aku pergi meninggalkannya, ikut dewasa bersama dunia, namun melupakan mereka dalam tawanya.
Tidak ada tangisan dalam kerinduan, tidak ada warna dalam senja, dan tidak terasa ketika luka..
Aku tinggalkan mimpi, bersama jejak jejak dirimu disini yang setia bersamaku,
Diatas batas karang ini aku berdiri, melipat tangan merangkul diri sendiri, memandang awan, memandang pantai, memandangi pelangi, tetap saja sepi, tak bisa lagi ku kembali.


Inspiring form the song Lembayung Bali by Saras Dewi

BERNYANYI DALAM KENANGAN




Sudah aku tutup saja catatan harian yang selalu aku bawa kemana aku pergi
dalam lembar terakhir aku tandai bahwa ini benar-benar sudah berakhir,
tidak akan ada perbaikan atau semacamnya,
tidak akan ada pengulangan atau sejenisnya,
hanya akan jadi catatan-catatan yang suatu waktu nanti aku siap untuk membukanya.
Kisah tentang cinta-cintaan itu sepertinya tidak ada habisnya,
seribu orang bosan membacanya
karena hanya bergulat dalam satu tema saja,
satu alur saja,
jatuh cinta, kasih mengasihi, dan ada dua pilihan ending,
bahagia lalu lanjut kepernikahan sampai maut memisahkan,
atau putus ditengah jalan dan sedih yang berkepanjangan mengiringi malam-malam yang sepi.
itulah, ending bahagia yang jatuh cinta, atau patah hati yang jatuh cinta.
Sempat ada keinginan membuka lembaran catatanku itu yang masih rapih,
aku baca halaman pertama, runtutan kisah-kisah bahagia,
kemudian aku berhenti,
langsung aku ingat di halaman terakhir ada tetesan air mata,
karena kehilangan.. iya,  rasa kehilangan yang begitu sulit di deskripsikan
ada perbedaan jarak antara rentan waktu,
aku tak bisa merabanya, karena begitu cepat datang dan pergi,
aku juga tidak bisa melihatnya, karena seakan kasat mata,
ini adalah yakinnya aku yang yakin meyakinkan diri,
melihat kali terakhir pertemuan  seperti puisiku terdahulu,
yang kita begitu berbeda,
aku jelas sebetulnya sudah tahu, bahwa ini ya memang sudah berakhir,
dia sudah sangat bahagia disana,
disana yang terbentang langit Jimbaran yang berhias bintang-bintang,
disana bahagianya dia melingkar dibawah selimut Uluwatu,
dan disana dia bahagia serentak dengan hentakkan musik disco di sepanjang Seminyak...
disana dia yang bahagia bersemarak dengan deburan ombak Dreamland..
Satu ini memang sudah berakhir, biar sajalah berakhir,
hanya saja ingatan-ingatannya yang masih cukup kuat melekat,
file foto-fotnya yang masih tersimpan rapih dalam kotak hitam,
atau sebuah pemantik yang sengaja aku ambil darinya karena itu barang kesayangannya,
lihatkan, jelas sekali aku masih saja mengenangnya,
tapi sudahlah, itu hanya sebuah lelucon patah hati,
yakin saja bahwa berakhirnya ini akan datang satu waktu awal baru yang segera di mulai
dan bersiaplah kedatangan cerita-cerita baru,
persiapkan hati ini untuk dia yang belum tahu sudah sampai dimana,
hanya tinggal tunggu saat yang tepat ketika hati ini sudah lahir lebih kuat..
semoga lebih kuat!


Inspiring from the song Move On by Andien

Label